Diceritakan, Habib Husein Bin Muhammad al-Habsyi Shahibul Maulid Simtud Duror yang biasa memimpin pembacaan dhalailul khoirot di Mekkah, bermimpi bertemu Rasulullah yang memerintahkannya untuk membaca Burdah di majlis tersebut. Lebih lanjut, dalam mimpi tersebut Rasulullah bersabda, “Bahwa membaca Burdah sekali lebih afdal dari pada membaca dhalailul khairot 70 kali.” (Eko Setiawan, Nilai-Nilai Religius dalam Burdah, hal: 7).
Begitu juga Imam Al-Bushiri mengatakan bahwa melantunkan Burdah sangat mujarab untuk terkabulnya hajat-hajat kita atas izin Allah. Namun, ia mensyaratkan harus istikamah dengan mengulang-ngulang bait “Maula yaa salli wa sallim ” menghadap kiblat, memahami makna bait-bait yang dibaca dengan himmah yang besar, beradab, dan memakai harum-haruman. (Ibid. 8).

Sebenarnya, pengamalan pembacaan Burdah selaras dengan Al-Quran dan Sunnah. Bahwa, pembacaan Burdah sebagai manifestasi kecintaan seseorang kepada Nabi dan rasa hormat kepada para ulama, dalam hal ini al-Bushiri sebagai pengarang kasidah Burdah yang merupakan waliyullah yang layak diharap berkahnya. Maka tidak ayal lagi tradisi pembiasaan pembacaan Burdah merupakan sesuatu yang sangat bernilai.
Menurut penuturan Kiai Musahri, pelantunan kasidah Burdah yang berulang-ulang mampu memunculkan sugesti rasa cinta (mahabbah) kepada Nabi Muhammad SAW. Bahkan, dalam penelitian Ulin Nihayah, kebiasaan pelantunan kasidah Burdah mampu memberikan aura positif bagi pembacanya. Sehingga, ini berimplikasi pada jiwa yang merasa nyaman, tenang, dan menyembuhkan penyakit batin seperti gelisah.
Begitu juga penuturan KH Sutra, tokoh langgar dari Desa Poreh. Sekitar tahun 1980-an tradisi pelantunan kasidah Burdah dilaksanakan di berbagai musala hingga rumah-rumah penduduk di kawasan Poreh, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, Madura. Di sini, pembacaan Burdah rutin dilaksanakan bakda maghrib.
