Bagi masyarakat Arab, karya Al-Bushiri ini memiliki berbagai fungsi. Misalnya, (a) berkaitan dengan aspek spiritual. Di sini, kasidah Burdah digunakan untuk penyembuhan penyakit rohani, jasmani, dan penolak bala; (b) terkait dengan pendidikan pembacaan Burdah diajarkan untuk kegiatan ekstra, seperti di pesantren pembacaan Burdah dilaksanakan setiap malam Jumat; dan (c) hiburan penyejuk hati melalui irama karena isi dan pilihan diksinya yang memukau.
Sebagai mana masyarakat Arab, orang Madura juga meyakini magis kandungan dari kasidah Burdah. Sehingga, ketika ada orang yang sakit menahun, atau orang yang sulit menghadapi sakaratul maut, maka akan dibacakan kasidah Burdah baik secara perorangan ataupun berjamaah. Dengan pelantunan Burdah, diyakini akan mampu menyembuhkan orang sakit bahkan memudahkan orang yang sedang sakaratul maut.

Merunut sejarah, para kiai di masa lalu juga telah mengajarkan betapa pentingnya pembacaan kasidah Burdah dalam rangka mengenalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Bahkan, kasidah Burdah difungsikan sebagai media dakwah dalam mengislamkan orang Madura. Menurut Ivan Petrovich Pavlov (w. 1936), bentuk dakwah dengan menggunakan kasidah Burdah dapat dilakukan dengan metode classical conditioning
Pembacaan Burdah pun ikut mewarnai berbagai upacara-upacara ritual di desa-desa seperti pada acara maulidan, tingkeban, hingga molang areh serta salamatan bumi. Karena, orang Madura mempercayainya sebagai wahana ngalap barakah dari seorang waliyullah.
Kenapa harus membaca Burdah? Pertanyaan semacam ini sering muncul di benak penulis. Setelah ditelusuri dari berbagai referensi, ternyata hal ini telah diisyaratkan oleh sedikitnya 20 ulama, di antaranya yang terkenal adalah Imam Syabukhiti dan Imam Baijuri.
