“Shodaqoh ee Mas!” suara perempuan tua itu tepat berada di sisi kanan kaca kendaraanku. Tak begitu jelas terdengar, tetapi kalimat itu terus diulang-ulang.
“Ini, Mbah!” tiba-tiba istriku membukakan kacanya dari arah belakang dan memberikan selembar uang padanya.

“Kenapa Mama memberinya uang?” tanya Nayla.
“Tanda bakti kita untuk orang yang sudah lanjut usia.”
“Mama juga sering memberi nenek uang?’
“Semenjak kakek meninggal, ayah dan mama punya kewajiban mencukupi kebutuhan nenekmu.”
“Tapi nenek tidak pernah meminta-minta kan?”
Istriku mulai bercerita panjang tentang nenek. Ya, semenjak bapak meninggal, ibu tinggal sebatang kara di rumah. Aku memilih membangun rumah tak jauh dari tempat kerja hingga satu dua bulan bisa berkunjung ke rumah ibu. Demikian pula adikku yang memilih menjadi karyawan pabrik di ibukota yang dalam hitungan tahun akan pulang. Ibu sendiri tak ingin beranjak pergi dari desa dimana lahir, dibesarkan, bertemu bapak, dan membesarkan anak-anaknya.
Berbekal peninggalan sawah sekitar setengah bahu, ibu tak pernah berniat menyewakan atau menjualnya kepada orang lain. Sawah itu selalu digarapnya sendiri. Tentu saja jika membutuhkan bantuan saja, ibu tinggal memanggil beberapa orang untuk bekerja harian.
Selebihnya, ibu sudah hafal waktu untuk bertanam padi, memupuk, mengairi, menyiangi, memanen, hingga menjemur. Ibu juga sudah tahu waktu musim palawija. Ibu bahkan lebih tahu tentang tengkulak mana yang bersedia membeli dengan harga dan takaran yang bagus. Atau kemana harus membeli pupuk, obat hama, dan perlengkapan bertani lainnya.
Saat aku pulang, ibu selalu memberikan hasil panennya kepada anak-anaknya. Belum lagi hasil berkebun seperti pisang, mangga, dan ketela yang selalu silih berganti menghasilkan. Itulah yang diceritakan istriku kepada Nayla dalam perjalanan kali ini.
“Alhamdulillah, Nayla punya ayah mama dan nenek yang baik dan sayang sama Nayla,” kata Nayla begitu mengkahiri cerita istriku.
Mobil harus berhenti lagi. Kali ini sudah hampir sampai di pusat kota, tepatnya pusat perbelanjaan. Kali ini kepadatan kendaraan lebih panjang meski hujan sudah terhenti. Semua sisi perempatan tampak penuh kendaraan. Nayla tampak sumringah. Memasukkan ponsel yang sedari tadi dimainkan ke dalam tas kecilnya.
Tiga orang remaja tampak membawa gitar, kecrek, dan satu lagi bernyayi. Suaranya nyaring sekali. Menyanyikan lagu-lagu Jawa terkini. Menghampiri satu persatu kendaraan yang berhenti. Semua kendaraan membuka kacanya dan memberikan lembaran uang. Aku pun menirukan lagunya yang entah keberapa. Lagu Pingal yang sedang mereka nyanyikan.
“Aneh ya, Yah. Di perempatan tadi ada yang memberi uang ada yang tidak.”
“Maksud Nayla?”
“Semua memberikan uang untuk anak-anak seperti itu.”
“Mungkin yang dilakukannya menghibur sekali.”
“Jangan beri uang Ayah. Bilang saja tidak punya uang kecil lagi,” suara istriku sedikit parau.
“Kenapa Ma pengamen itu tidak diberi uang?” tanya Nayla.
“Lihat saja! Usianya masih remaja. Badannya besar dan sehat semua. Harusnya mencari pekerjaan lainnya. Tidak di perempatan seperti itu.”
“Dia menghibur, Ma. Lihatlah Ayah sedari tadi menirukan lagu yang mereka nyanyikan. Mereka juga tidak memaksa,” Nayla terus menyela.
