Lelaki Pemetik Buah Kebohongan

Andre hanya bisa duduk terdiam di pojok kamar sambil menutup kedua matanya dengan bantal. Meski keinginan untuk memburu kupu-kupu kuning ke lereng kebun siwalan tetap ada di hatinya, tapi ia tak berani keluar, dan terpaksa harus mengurungkan niatnya dengan dada yang sesak. Beberapa kali ibunya membujuk untuk keluar, tapi ia menggeleng. Kalau pun mau melihat, ia pasti sebatas menoleh ke arah jendela dengan wajah yang diliputi rasa takut.

Ia melakukan itu semua karena takut pada seekor buaya yang merayap di dahan lengkeng yang tumbuh di dekat jendela rumahnya, sebagaimana yang diceritakan ayahnya pagi tadi setelah ia pamit untuk memburu kupu-kupu sembari memegang jaring yang dilingkari kerangka kawat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sedang Suma, ayah Andre, tersenyum melihat anaknya yang berusia lima tahun itu ketakuatan. Ia pun berkesimpulan bahwa kebohongan punya kekuatan sepuluh kali lebih dahsyat daripada sepuluh kali sabetan gagang sapu ke punggung Andre. Hanya kalimat bohong yang mampu menahan Andre untuk tidak selalu keluar rumah. Itulah sebabnya, Suma kini tak perlu lagi menyediakan gagang sapu, cemeti, atau seutas rotan yang biasanya digunakan untuk memukul—atau kadang sekadar menakut-nakuti—Andre agar tidak keluar rumah. Kini ia cukup menyiapkan kalimat bohong yang tentu setiap waktu—atau minimal setiap hari—redaksi bahasanya harus diubah demi memengaruhi pikiran Andre agar percaya.

Sejak tiga bulan terakhir, Andre punya kebiasaan unik yang kerap ia lakukan saat bermain dengan taman-temannya. Kebiasaan itu antara lain mandi pasir, makan serangga yang dibakar, dan mengunjungi kuburan. Kebiasaan itulah yang membuat Suma selalu melarang Andre agar tidak keluar rumah.

“Papa selalu menakut-nakuti Andre dengan kata-kata bohong supaya tidak keluar rumah. Apa salahnya kalau dia keluar rumah untuk bermain, Pa? Bermain adalah dunia anak, Pa, di sanalah ia akan belajar bersosialisasi,” ujar Yumi kepada Suma di ruang tamu seraya memegang sepiring nasi, setelah nyaris putus asa karena tak berhasil membujuk Andre untuk makan malam.

“Aku sebenarnya tak mempermasalahkan bermainnya, Ma. Aku mempermasalahkan kebiasaan buruk anak kita itu. Aku berbohong demi menyelamatkan anak kita, Ma,” jawab Suma sambil melabuhkan kepalanya ke sandaran kursi.

“Aku tak mempermasalahkan kebohonganmu, Pa. Aku mempermasalahkan caramu yang menakut-nakuti,” Yumi menaruh piring di meja agak kasar hingga sendok di atasnya bergemerincing. Keadaan sejenak hening.

“Baiklah, Ma. Besok misalnya Andre kembali nakal dan ingin selalu bermain, aku tidak akan menakut-nakuti dia, tapi tetap akan kusiasati dengan kalimat bohong.”

“Kalau tidak dengan kalimat bohong kenapa, Pa? Aku rasa itu lebih tepat untuk mendidik anak.”

Suma tersenyum, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Yumi. Sebentar keduanya saling tatap dalam jarak dekat, seperti menukar perasaannya masing-masing.

“Anak zaman sekarang terlalu licik, Ma. Orangtua bisa mengalahkannya hanya dengan kebohongan. Dan semua itu dilakukan demi kebaikan bersama, Ma.”

“Kalau aku berpikir sebaliknya, Pa. Orang tua sekarang yang terlalu banyak bohong kepada anaknya sehingga anaknya banyak yang licik.”

“Ma! Jangan bicara sembarangan ya!” bentak Suma kepada Yumi. Kedua matanya terbelalak.

#

Butuh waktu setengah bulan bagi Andre untuk menjalani hidup wajar tanpa ketakutan. Ia mulai bisa keluar rumah meski kadang tiba-tiba pandangannya terpaku cemas pada dahan lengkeng di dekat jendela, seraya mengamati dan berharap buaya yang diceritakan ayahnya itu tak ada lagi.

Dengan cekat Suma mencatat bahwa satu kalimat bohong yang dipakai menakut-nakuti Andre punya kekuatan setengah bulan untuk menahan Andre dalam kamar. Setengah bulan berikutnya Suma kembali membuat oretan di atas kertas, mencoba menyusun kalimat bohong lainnya, ia juga mengingat pesan istrinya agar dalam kalimat itu tidak ada unsur menakut-nakuti.

Suma menyimpan selipat kertas berisi oretan kalimat bohong itu di bawah kasur, sambil lalu ia memantau Andre lewat jendela.

Beberapa hari setelah berani keluar rumah, Andre kembali bisa bermain dengan teman-temannya. Main jumpalitan, kejar-kejaran, tinju-tinjuan hingga jual-jualan. Setiap hari, rumah Andre selalu ramai dengan suara teman-temannya. Suara bocah-bocah itu sering membuat Suma tidak bisa tidur siang. Tak jarang ia mendatangi bocah-bocah itu lalu marah-marah. Tanpa disengaja, ia kerap menyebut kembali perihal buaya yang merayap di dahan lengkeng.

Tinggalkan Balasan