“Itu akan menjadi kebiasaan dan malas mencari pekerjaan. Lihat saja uangnya pasti untuk hal-hal yang tidak berguna.”
“Mama jangan berprasangka begitu. Mereka tidak memaksa. Kalau tidak kasih uang, juga tidak masalah,” aku pun tak sabar ingin mengeluarkan pendapat.

Para pengamen itu sudah berada di samping kanan kemudiku. Ia berhenti sambil terus menyanyi. Kali ini lagu Wong Sepele dengan penuh penghayatan. Aku ambilkan koin bergambar bunga melati dari sisi celah pintu. Kuberikan pada mereka yang langsung berlalu begitu saja.
“Ayah selalu tidak mengikuti pendapat Mama,” dari arah belakang istriku berkata dengan nada ketusnya.
“Kasihan, Ma. Toh hanya 500 perak.”
“Sama saja menjadikannya mereka malas bekerja.”
“Mereka bekerja, Ma! Dan tidak memaksa. Apa bedanya dengan yang tadi sebelumnya?”
Akhirnya mobil sampai di parkir pusat perbelanjaan. Berderet dan sulit mencari tempat parkir yang kosong. Semua terisi penuh. Padahal di depan tidak ada plang tanda parkir penuh.
Aku pun memutar keluar. Mencari-cari tempat di luar untuk memarkirkan kendaraan meski terkadang lebih mahal. Aku amati jengkal demi jengkal. Nayla tampak membuka sedikit kacanya agar bisa melihat lebih jelas.
“Kita pulang saja, Yah!”
“Nayla tidak jadi makan dan bermain?”
“Tidak jadi, Yah. Maafkan Nayla yang selalu meminta berlebihan.”
“Nayla ingin makan apa?”
“Kita pulang saja, Ma. Nanti bikinkan Nayla nasi goreng dan telur ceplok saja.”
Mobil kembali melaju pulang ke rumah. Melewati persimpangan yang sama dengan saat berangkat. Akan ada banyak titik perhentian. Hujan pun turun dengan lebatnya.
“Yah, itu pengamen yang tadi.”
Nayla menunjukkan pandang pada ketiga pengamen tersebut. Duduk di sebuah kedai pinggir jalan. Menyeruput kopi. Sesekali menghisap vapour-nya. Kedua tangan mereka terus-menerus menekan tombol-tombol ponselnya.
“Cuma itu pekerjaannya. Nongkrong, ngopi, game,” istriku terus menceramahiku dari arah belakang kemudi.
Aku berusaha tak memedulikan. Nayla pun memilih diam, berpura tidur dalam sandaran. Rinai hujan menjadi hal yang menyelamatkanku karena suara yang begitu kerasnya. Aku terus saja melajukan kendaraan.
Lampu merah. Jelas tak nampak pengamen tadi di jalanan. Crooot. Suara cairan shampoo disiramkan tepat di depan kaca tanpa permisi. Beberapa anak melakukan hal yang sama. Menumpahkan cairan itu lalu menggosok-gosokkan kaca. Aku tak berinisiatif memberikan uang. Trauma kejadian tadi akan terulang.
Anak itu tampak mengetuk kaca. Tapi aku tak memedulikannya. Berkali-kali sembari tangannya terus mengelap kaca. Aku tak menoleh sedikit pun padanya. Terlihat istriku terdiam saja. Seolah mendukung diamku pada kejadian sekitarnya. Aku melajukan kendaraan lagi saat lampu sudah hijau. Kudengar lamat-lamat anak itu memaki. Aku pun tak peduli. Karena, sebentar lagi, Ramadan sudah menanti.
ilustrasi: quora.
