Wakaf Mbah Mardi

***

Senja temaram di balik bukit dusun. Menyeringai kuning menghalau laju terik sang surya. Perlahan, waktu terus berputar pada poros sesuai kodratnya. Menopang raga yang rapuh, jatuh terlahap usia. Pesantren Darussalam semakin kokoh berwibawa. Cor-coran beton sebagai saksi yang menancap di tanah wakaf sebagai saksi bisu. Sejarah buram, pudar, luntur dengan hiasan orang-orang yang membutuhkan pengakuan, popularitas, eksistensi, untuk diakui jasanya atas kebesaran pesantren yang kini agung berdiri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Kung, aku tahu Allah Maha mencukupi, Allahulkafii.. dijanjikan-Nya akan balik ditolong jika menolong agama-Nya. Tapi, ketika pesantren ini dulu lahir, ringkih-merintih, dan kini menjadi besar, namamu hanya dalam berkas kecil sejarah. Jika ada acara, mereka enggan menyebutmu, mendoakanmu, begitu abai, lali akan hibah wakafmu. Kiai dan pengurus pesantren ini begitu pongah, angkuh, dan dengan dalil-dalil kelembutan mereka sisipkan nama-nama mereka. Untuk mendapatkan pujian dan tepuk tangan. Agar orang-orang tau, berkat perjuangan keras, kealiman yang mereka tunjukkan, pesantren ini menjadi semakin besar,” isak Mbok Sum ditepian kubur Mbah Mardi.

Sejurus kemudian, Mbok Sum bersimpuh-luluh. Menyadari rengekannya kepada Sang Pencipta. Mbok Sum segera beristighfar beberapa kali, khawatir wadulannya didengar Sang Maha Atas. Mbok Sum takut, akan berijabah sebab madzlumun ‘ala dzalimin dzalimat.

“Astaghfirullahal’adziim… astaghfirullah… astaghfirullah..,” gumam Mbok Sum sambil mencabuti rumput di kanan-kiri nisan suaminya. Bunga kamboja jatuh di pusara. Seolah menyimpan cerita Mbok Sum. Rumput yang telah tercabut, ruhnya melayang mengabarkan kepada malaikat.

Pak Sam sebagai pemangku pembina, penasihat, sekaligus penanggung jawab pesantren mulai menancapkan akar-akar dinastinya. Sebagian besar pengasuh pesantren adalah handai taulannya. Dipersilakan bermukim, ditempatkan pada posisi-posisi penting struktur pesantren, hingga mereka mendapatkan kelayakan dalam hal materi. Nafkah tercukupi. Acuh, kepekaan yang diabaikan, begitu pengajar bani dinasti berpikir. Fokus utama adalah mengajar santri mengaji demi kemajuan pesantren, cukup sekian dan terima kasih. Sebuah zona aman dan nyaman. Perkara lain, seperti sejarah adalah hal pelik. Masalah sepele, perihal wakah Mbah Mardi, misalnya, bisa mengganggu.

Masyarakat dusun terkagum-kagum melihat pesantren pesat berkembang. Ratusan santri berdatangan ingin mengaji. Semakin tampak kealiman dan keilmuan para pengasuh pesantren, karena dianggap amanah, hingga menaruh kepercayaan untuk nyantri, menimba keilmuan di sana. Keluarga Mbah Mardi memang sesekali dianggap. Itu pun hanya dalam seremoni. Mbok Sum dan kedua anaknya diberikan bingkisan jelang lebaran, diberikan sekelumit sanjungan-sanjungan kecil ketika haflah akhirus sanah, entah hanya untuk keformalan, kejujuran, atau kemunafikan untuk menutupi.

Mbok Sum trenyuh. Ketika santunan muharram, nama Mbok Sum dan si bungsu terdaftar dalam undangan, sebagai penerima santunan untuk kategori fuqara wal masakin dan si bungsu sebagai anak yatim. Tentu saja, Mbok Sum menolaknya. Bagaimana mungkin akan mengkhianati ajaran suaminya. Yang dulu selalu berusaha meng’atas’kan tangan untuk memberi bukan menerima, meski dalam sahaja.

Kegalauan Mbok Sum masih ngganjel. Mbok Sum sebenarnya sulit legawa. Perihal tanah wakaf yang sebenarnya jatah warisan untuk anaknya, mungkin sedikit bisa membantu kesejahteraan masa depan kedua anaknya kelak.

Mbok Sum pernah minta izin kepada Pak Sam, agar anak sulungnya diizinkan mengajar di pesantren. Alhamdulillah, diizinkan. Meski jelas ada perbedaan dengan pengajar-pengajar dari sanak dulurnya. Mbok Sum kesepian, ia tidak ingin anaknya pergi merantau. Biarlah, yang penting anaknya kerja meski penghasilan tak seberapa, kiranya beberapa petak sawah cukup untuk jatah beras setahun.

Si sulung sebenarnya enggan, tetapi desakan dan alasan Mbok Sum cukup membuatnya terbungkam. Ia ingin melihat kelegaan terpancar dari wajah nelangsa ibunya.

Pesantren di bawah asuhan Pak Sam semakin besar. Daya tampung santri kurang mencukupi. Pak Sam memutar otak dan jalan satu-satunya adalah perluasan. Setelah diskusi dengan kepala pesantren, Kiai Mad, Pak Sam menemui Mbok Sum sebagai pemilik tanah yang dekat di sisi pesantren.

“Mbok Sum, Mbah Mardi adalah sosok yang saya kagumi. Tanpa jasa beliau, pesantren ini tidak mungkin akan berdiri,” Pak Sam memulai percakapan.

Kiai Mad segera menambahkan, “Betul mbok. Perkara yang bisa membuat jariyah kita bisa mengalir meski kita mati, salah satunya adalah harta yang dijalankan untuk Allah.”

Mbok Sum mengangguk. Tanda mengerti arah pembicaraan kedua tamunya. Ia mempersilakan tanah samping pesantren diwakafkan untuk dijadikan bangunan. Si Sulung yang terlambat mengetahui keputusan ibunya, ingin mengajukan protes. Tetapi, ajaran bapaknya tentang hidup yang hanya mampir sebentar, membuatnya menahan ego oposisinya.

Tinggalkan Balasan