Begitulah, kesepakatan wakaf terjadi. Pihak pesantren bisa memakai tanah wakaf dari Mbok Sum, dengan catatan si bungsu kelak akan bisa membuka warung di dalam pesantren dan gaji si sulung akan disamakan dengan pengasuh pesantren lainnya. Angin sejuk seolah merasuk ke rongga pernapasan Mbok Sum. Keyakinan akan kelayakan hidup yang akan diterima kedua anaknya sebab perjanjian wakaf bermaterai, telah membuat Mbok Sum sumringah.
Hitam di atas putih belum cukup untuk menebalkan garis perjanjian. Wakaf bermaterai, terurai-berai dalam kuasa pemangku kebijakan. Berbagai dalih dilontarkan lengkap dengan dalil, ketika Mbok Sum menagih kesepakatan. Pak Sam dan Kiai Mad justru mengepakkan sayap dinastinya. Memasukkan beberapa pengajar ke pesantren dilampiri kesesuaian kesejahteraan.

Mbok Sum lelah. Raganya sudah ringkih, berpasrah. Ia meminta maaf kepada kedua anaknya.
“Nduk, Le… Allah akan mengirimkan pertanyaan-pertanyaan yang senantiasa muncul di hati dan kepala mereka,” Mbok Sum mecoba menasihati kedua anaknya. Si sulung dan bungsu mencoba menerka, gerangan yang akan diwejangkan ibunya.
“Mereka siapa, Mbok?” tanya si sulung.’
“Mereka, yang kamu anggap mendzalimi.”
“Insyaallah, tapi pertanyaan-pertanyaan tentang apa?”
“Was-was, kekhawatiran, kecemasan.”
“Untuk apa?”
“Pertanyaan dari jawaban sebenarnya dosa-dosa mereka,” Mbok Sum menyudahi.
Napas Mbok Sum berembus, tersengal teratur membawa keikhlasan. Memalingkan wajah menghadap kiblat. Membujur fasih melantunkan tasbih. Izrail tiba menjemput. Berhati-hati mencabut ruh tawakal Mbok Sum. Perkara wakaf dianggapnya telah usai, selesai. Lillahi ta’ala pesan Mbok Sum kepada kedua anaknya. Untuk tidak menuntut dan berharap mendapatkan hal yang patut sebagai balasan.
Takdir Allah begitu santun melantun. Sebiji kecil dzarrah yang dilontarkan akan kembali. Sebagai karma, dharma bakti tingkah polah manusia. Pak Sam beberapa tahun setelah bangunan baru didirikan, meninggal, karena kadar gula di dalam tubuhnya sudah tidak bisa terkelola dengan baik. Kiai Mad, tiba-tiba mengalami gangguan suplai darah ke otak, stroke. Tubuhya mati separo, mati rasa, hingga sulit berbicara dan berjalan.
Bisikan setan akan kepuasan suuzan lirih terdengar oleh si sulung. Ditepisnya, disinggahkan pada doa tawakal. Dikenangnya khusyuk Al Fajr, tentang jiwa yang tenang untuk kembali pada Tuhan dengan hati yang puas lagi diridhai. Sulung membelai rambut si bungsu, “Urip mung mampir ngombe..”
ilustrasi: lukisan Heno Airlangga, javadesindo art gallery.
