Aku dan para kiai yang hadir terkesiap tatkala mendengar teriakan Kiai Raden. Rasa bangga karena bisa mewujudkan impian guruku menyusup ke sendi-sendi tubuhku. Mataku pun ikut memerah melihat pemandangan yang menyejukkan jiwa. Terbayar lunas sudah rasa lelah satu bulan perjuanganku yang blusukan ke daerah-daerah terpencil di pelosok Nusantara.
Selanjutnya, Kiai Raden menghubungi seluruh masyayikh se-Jawa dan Madura untuk melanjutkan diskusi tahap terakhir terkait penetapan kurikulum, persyaratan untuk masuk ke lembaga ini, serta siapa saja tenaga pengajar yang akan dipilih.

Dari musyawarah yang dilaksanakan dari selepas Isya’ hingga larut malam ini ada beberapa hal yang disepakati. Salah satunya tentang Fathul Muin dan Fathul Wahab yang dijadikan acuan kitab pokok dalam bidang fikih. Ghayatul Wushul dan Jam’ul Jawami’ yang terkenal lumayan sulit mendampingi sebagai kitab usul fikihnya. Sementara itu, terdapat sekitar dua puluh nama kiai yang tersebar dari berbagai kota mendapatkan mandat untuk mengajar.
Tiga bulan berlalu, proses belajar mengajar di lembaga takhassus ini berjalan sesuai rencana. Tiga ratusan santri yang lulus seleksi menempati asrama khusus yang baru rampung dibangun. Mereka inilah yang digadang-gadang kelak menjadi penerus perjuangan Nabi dan para ulama.
Hari-hari dilalui Kiai Raden dengan wajah sumringah. Selama sepuluh tahun mengabdi padanya, baru kali ini aku merasakan ada hal lain yang terpancar darinya. Akan tetapi, wajah yang penuh kebahagiaan itu tak lama bisa kusaksikan. Pasalnya, akhir-akhir ini Kiai Raden sering sakit-sakitan yang membuatnya lebih banyak menghabiskan waktu di ranjang kamarnya.
Suatu waktu, saat aku sedang mengantar makanan ke kamarnya, Kiai Raden memanggilku:
“Khofi, sekarang saya benar-benar bahagia. Saya tidak punya tanggungan utang lagi pada guru saya. Aku menitipkan lembaga ini padamu. Ajari para santri dengan penuh telaten dan kesabaran. Percayalah, santri-santri saya akan alim.”
Aku menjadi salah tingkah mendapati perkataan yang tiba-tiba tersebut. Entah ini pertanda baik atau buruk, aku juga tak tahu.
Akan tetapi, semua teka-teki dan kebingungan yang ada di hatiku terjawab pada keesokan malamnya, ketika Kiai Raden sedang mengisi pengajian kitab Fathul Wahab yang rutin dilakukan bakda Maghrib hingga menjelang Isya. Ditemani cahaya lampu teplok dan purnama yang memancarkan cahaya redup, aku dan para santri yang lulus seleksi mendengarkan dengan seksama makna dan penjelasan darinya.
Sesekali suara batuk terdengar mengiringi pengajian. Meski sudah banyak yang menganjurkan agar beristirahat dan mewakilkannya pada pengurus yang lain, Kiai Raden bersikeras untuk istikamah mengajar. Aku dan para santri lainnya dibuat tak tega melihatnya.
Kiai Raden memang keras ketika berurusan dengan masalah pesantren apalagi soal mengajar. Bahkan, tamu yang datang dari jauh pun akan diabaikan ketika waktu mengajar telah tiba. Pernah suatu ketika gurunya yang datang dari daerah Jawa Barat menunggu hampir dua jam karena santri yang lain tak ada yang berani matur pada Kiai Raden yang sedang asyik mengajar kitab kuning.
Tak terasa azan Isya’ telah berkumandang membuat pengajian terhenti, dan Kiai Raden pun menutup kitabnya. Aku dengan sigap menuntun kursi rodanya untuk kembali ke kamarnya. Saat diri ini ingin kembali ke masjid untuk menggantikan peran Kiai Raden menjadi imam, terdengar suara teriakan histeris berasal dari rumah Kiai Raden. Aku yang panik langsung putar badan mencari tahu asal suara. Hati dan pikiranku menjadi bergemuruh tak karuan. Pikiranku juga melayang ke mana-mana memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi.
Ketika belum sampai ke tujuan, tak sengaja aku berpapasan dengan salah satu santri yang terlihat baru saja datang dari ndalem. Dari gelagatnya, ia terlihat sangat berantakan. Aku yang tak sabar langsung menanyakan kejadian apa yang telah terjadi di rumah Kiai Raden. Dengan napas yang menderu, ia berusaha sekuat tenaga menjawab pertanyaanku meski dengan kalimat yang terbata-bata.
“Anu Kang, Kiai Raden. Kiai Raden baru saja meninggal. Sudah dulu ya Kang, aku disuruh untuk mengumumkannya di masjid pesantren,” jawabnya dengan gugup, lalu tiba-tiba menghilang dari hadapanku.
Seketika diri ini menjadi hilang kendali. Tubuhku ikut berlutut ke tanah seolah tak memiliki tulang-belulang. Air mataku tiba-tiba mengucur dengan deras. Sang Mujahid Kabir itu telah berpulang dengan tenang, mewariskan Lembaga Kader Ahli Fikih yang kelak menjadi tumpuan umat untuk menyelesaikan berbagai macam persoalan keagamaan.
Kini beban itu beralih ke pundakku. Meski tak mudah, aku berjanji dengan segenap jiwa dan raga akan menjaga dan melestarikan warisan yang mengorbankan perjuangan dan keringat banyak kiai, lebih-lebih guruku, Kiai Raden.
Sukorejo, Senin, 28 Oktober 2024.
