Wasilah Ruang Terbuka itu Bernama duniasantri.co

Di sisi yang lain, saya semakin tidak kerasan mengajar. Bukan karena faktor anak-anak. Tentu, saya senang bisa bertemu mereka dan itu mengingatkan saya pada masa remaja saya dulu. Tetapi, ketidaksrekan itu timbul dari lingkungan sekolah yang seragam, ditambah buku-buku pelajaran yang menurut hemat saya kurang bagus isinya (Memang hal itu sudah sejak lama terjadi. Kualitas buku pelajaran di sekolah selalu buruk dari segi kertas maupun isi. Ini bisa dicek dalam esai-esai lama seperti yang pernah ditulis Mahbub Djunaidi, dkk). Kita semua tahu bahwa buku itu adalah proyek, dan proyek telah banyak masuk ke dalam dimensi kehidupan kita. Dan yang kritis justru di dunia pendidikan kita.

Singkat cerita, saya memutuskan berhenti mengajar setelah setahun kurang menjadi guru Bahasa Indonesia. Saya akhirnya ke Yogyakarta untuk menimba ilmu dan mendalami diri sekaligus nyantri di Pondok Pesantren Maulana Rumi yang diasuh Kiai Kuswaidi Syafi’ie.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di sana saya tidak banyak membaca buku seperti sebelumnya, tetapi lebih “mengalami” hidup. Saya tidak ragu, sebab Pak Kiai Kuswaidi Syafi’ie (atau yang akrab disapa Cak Kus) juga adalah seorang penyair yang terkenal pada sekitar tahun 1980-an 19dan 90-an di Yogyakarta. Walaupun tidak lama saya mengaji di sana, bekasnya masih terasa di batin sehingga menimbulkan ide-ide dan semangat untuk kembali menulis.

Kalau tidak keliru, akhir Desember 2020 itulah pertama saya menulis di duniasantri.co, dan seperti di awal saya katakan, saya memulainya dengan puisi. Lain tidak. Kebetulan, saya mendengar informasi itu dari kakak saya yang kebetulan pada waktu itu juga turut mengelola bagian perbendaharaan di duniasantri.co.

Tinggalkan Balasan