wayang

Wayang Katresnan dalam Mitologi Pendidikan Islam

Penulis terkadang bertemu dengan beliau walaupun tidak seintens yang mungkin dibayangkan pembaca. Penulis kerap bertemu dengan beliau di kedai kopi yang kebetulan menjadi salah satu tempat favorit penulis untuk sekadar menikmati kopi ataupun sebagai tempat diskusi-diskusi kecil dengan kawan. Lewat kedai kopi tersebut pula, tak dapat dimungkiri bahwa penulis sering merasakan aura dalang Kang Ma’ruf saat beliau memberikan wejangan seputar kehidupan hingga pernah sekali mengaitkan dengan sistem pendidikan kita.

Beliau pernah mengatakan kepada penulis tentang betapa prihatinnya beliau dengan kualitas pendidikan kita, di mana banyak siswa sekolah yang kurang menghormati guru, sekolah hanya dianggap sebagai tempat mencari ijazah, dan masih ada beberapa hal yang salah kaprah tentang sistem dan kualitas pendidikan yang dihasilkan oleh bangsa kita.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hingga puncaknya, si empu pembuat wayang katresnan ini, Kang Ma’aruf, kurang lebihnya menyimpulkan bahwa semakin mudahnya ilmu dicari dalam era digital membuat guru kurang dihargai. Selain itu, kepekaan orang tua dengan keluh kesah guru juga semakin membuat kurang majunya sistem dan kualitas pendidikan bangsa kita.

Mungkin aura dalang beliau yang terpancar dalam memberikan wejangan dan solusi dalam menyikapi hal tersebut, sehingga mengantarkan beliau lebih dipercaya untuk menjadi koordinator paguyuban wali siswa sebagai wadah untuk mengatasi permasalahan yang menerpa siswa dengan strategi kolaborasi dengan guru.

Mitologi Pendidikan

Jujur, saya belum secara spesifik mempelajari tentang wayang katresnan ini. Namun, jika boleh sedikit beropini tentang wayang katresnan, maka penulis memiliki persepsi yang mungkin unik untuk digambarkan.

Dalam keterangan laman Kemendikbud.go.id, wayang merupakan cerita yang bersumber dari kitab Ramayana dan Mahabarata yang kemudian dikembangkan dalam tradisi pertunjukan wayang. Wayang itu sendiri merupakan boneka tiruan orang yang terbuat dari pahatan kulit atau kayu yang dapat dimanfaatkan untuk memerankan tokoh dalam pertunjukan cerita wayang (drama tradisional) di Jawa, Bali, Sunda, dan sebagainya yang biasa dimainkan oleh seseorang yang disebut dalang dengan iringan musik tradisional gamelan.

Tinggalkan Balasan