Pertunjukan wayang biasanya menggunakan kelir, selembar kain sebagai pembatas antara dalang dan penonton. Tradisi seni pentas itu dikenal sebagai seni pedalangan. Aspek tuturan (cerita) dalam wayang terdiri atas narasi (wacana) dan dialog (antawacana) yang secara keseluruhan ditampilkan sebagai satu pertunjukan orkestra, biasanya berlangsung semalam suntuk.
Sedangkan, menurut Mbah Hadi, salah seorang sejarawan budaya Jawa, katresnan berasal dari bahasa Jawa tresno. Katresnan bisa dimaknai sebagai kecintaan. Beliau juga menambahkan jati dari kata penggalan sejati. Jika kemudian disambungkan menjadi katresnan jati, dapat diartinya sebagai kecintaan kita yang sejati.

Akhir kata, bukan maksud penulis tak ingin lebih panjang beropini tentang wayang katresnan gubahan Kang Ma’ruf. Lebih dari itu, penulis malah mengingat kesenian wayang katresnan di lingkungan desa Gesing dengan dalang Mas Huda dan Mas Rambat yang berasal dari Lesbumi NU Kandangan pada waktu itu.
Isi dari pagelaran “pementasan” wayang itu mengajarkan tentang nilai-nilai pendidikan dibungkus dengan hal ruhaniah “agama”. Pagelaran yang kebanyakan dihadiri oleh orang tua dan anak-anak itu mendapatkan pesan menyentuh lewat lagu Ilir-ilir karya Sunan Kalijogo.
Sesaat mendengar lirik “tak ijo royo-royo” yang mengandung arti dibuat tumbuh subur. Menekankan tentang penampilan pribadi muslim yang menyenangkan, sehat jasmani dan rohaninya. Dari benih ‘iman’ yang baik, dirawat dengan baik, maka tumbuh iman yang baik pula, yang dilambangkan dengan tanaman yang ijo royo-royo.
Selain itu, lirik tersebut menyimpan makna mendalam seputar nilai pendidikan, di mana saat seorang siswa telah mengenal iman, maka ia akan dengan sepenuh hati menghormati gurunya, orang tuanya, maupun lingkungan di sekelilingnya. Karena, dalam realitanya, rida Tuhan berada pada rida orang tuanya, jika di rumah orang tua kandungnya yang menjadi walinya, maka di sekolah gurunya menjadi orang tua atau wali di sekolah tempat ia menimba ilmu.
