Di ruang media sosial, tidak luput dari sorotan publik bagi siapa saja yang berhasil menarik perhatian publik. Tak terkecuali Nawaning, atau wadah para putri kiai, yang dipandang memiliki pesona luar biasa. Pakaian indah dan rupa yang memesona. Masyarakat awam yang kurang begitu paham dalam hal teladan-meneladani, rentan salah dalam meneladani mereka. Yang diteladani justru lahiriahnya, bagaimana cara berpakaiannya, gaya hidupnya, make-up-nya. Tapi lupa atau bahkan tidak mengindahkan untuk meneladani semangat thalabul ilmi atau ngajinya.
Boleh-boleh saja, jika Nawaning menampakkan pesona diri di ruang media sosial. Mereka adalah manusia biasa yang sah-sah saja mengikuti arus media sosial. Karena membawa nama besar nasab, alangkah baiknya untuk tidak melalaikan memberikan teladan bagi masyarakat untuk semangat ngaji, belajar, dan akhlak yang baik. Tidak harus sempurna, setidaknya, meninggalkan tindakan-tindakan yang sekiranya kurang baik jika dicontoh masyarakat.

Pandangan ini tidak serta merta menyalahkan pihak manapun. Baik Nawaning ataupun masyarakat. Hanya perlu meluruskan dalam menyikapi Nawaning di dunia maya, hendaknya masyarakat meneladani semangat keilmuan, ngajinya, dan akhlak yang baik untuk dicontohkan. Bukan hanya berfokus untuk berlomba-lomba meniru lahiriahnya tanpa mengindahkan keelokan batiniahnya.
Kita boleh mempercantik fisik, mengenakan pakaian indah. Karena tak ayal, kecantikan kerap kali dikaitkan dengan penampilan luar. Bagaimana rupa wajah, bagaimana pakaian yang dikenakan, atau bagaimana standar fisik yang dianggap sempurna oleh masyarakat.
Meski demikian, sebetulnya tidak kalah penting pula mengupayakan kecakapan tampilan luar. Bukan demi menarik perhatian atau sekadar tampil menarik, tapi agar orang lain merasa nyaman berada di dekat kita. Tidak terganggu dengan penampilan kita yang kurang enak dipandang, seperti pakaian yang kusut, rupa yang kucel tidak terawat, atau penampilan lahiriah lain yang berada di luar batas kepantasan.
Kita semua juga sepakat bahwa kecantikan perempuan diupayakan dengan merawat diri dengan sebaik-baiknya. Memilih skincare dan bodycare yang cocok, seperangkat make-up yang cakep, dan pakaian yang indah. Semua ini tidak ada salahnya. Perempuan memang menyukai keindahan. Kita berhak mencintai diri kita sendiri dengan cara-cara yang kita sukai semacam ini. Karena dengan cara ini, kita mensyukuri nikmat raga yang dimiliki dengan merawat diri sebaik-baiknya.
Namun, pertanyaannya adalah: sudahkah kita mensyukuri nikmat jiwa yang kita miliki dengan merawatnya sebaik-baiknya juga?
