ANAK-ANAK DAN PEREMPUAN YANG MENJERIT DI SEPANJANG JALAN
Miniatur surga; semesta harusnya penuh belas menatap iba anak-anak yang dipaksa dewasa
memungut perih-pahit hidup seolah telah berusia matang.

Barangkali, para orang tua keliru berhitung tentang usia,
atau keliru memahami arti tatap anak-anaknya.
Sementara semesta kian pongah, anak-anak bertopeng lengah menari di sepanjang jalan menuju pendewasaan yang prematur.
Perempuan mengemis panggung, hendak berdaya dan memaknai merah-putih dalam debar yang mengakar. Namun yang terjadi adalah kompetisi sesama perempuan justru penuh siasat; saling manjatuhkan, seolah sedang berlomba panjat pinang di momen sesakral peringatan kemerdekaan.
Perempuan terbelenggu pada harap yang besar, dan keterbatasan yang mencekat; beberapa memang selaksa manusia tanpa nurani, berharap melestarikan perbudakan demi membuncitkan perut sendiri. Menumpuk rupiah dari hasil menjepit perempuan dalam strata sosial, mengusung gender sebagai tajuk penuh kontroversi;
