“RT kok nggak pernah jamaah di masjid, RT macam apa itu? Seharusnya jadi panutan umat.”
“RT memang ikut kerja bakti, tapi mbok ya ngasih konsumsi kek, rokok kek, sego pecel kek, atau apalah….”

Dan banyak gunjingan lainnya.
Akan tetapi, jika dibalikkan: “Baiklah, pemilihan berikutnya, Anda saja yang menjadi ketua RT,” maka sudah dipastikan kata penolakan keras dan beribu argumen tak jelas, akan muncul dengan culas.
Begitulah kira-kira. Dusun ini sudah tiga bulan tidak mempunyai Keua RT. Semenjak Pak Suroto terkena stroke. Segala pengadministrasian desa menjadi terganjal karena keganjilan struktur perangkat desa yang tidak lengkap.
Melihat situasi semakin rumit, Pak Lurah mengadakan rapat dengan warga desa. Pak Lurah tidak ingin mengadakan pemilihan tapi penunjukan Ketua RT secara langsung.
“Baiklah, langsung saja, berdasarkan pertimbangan dan hasil diskusi dengan tokoh agama dan masyarakat, terutama warga dusun RT 13, yang menyerahkan keputusan kepada saya, maka dengan ini saya memutuskan …” Hadirin tampak berdebar mendengarkan siapa yang nanti akan ditunjuk Pak Lurah Sumarno untuk dijadikan Ketua RT 13.
“Yang menjadi Ketua RT 13 berikutnya, untuk periode lima tahun adalah… Bapak Cipto! Silakan kepada Bapak Cipto untuk memberikan sambutan.”
Hadirin bersorak. Gembira bukan hanya karena sudah ada pengganti Ketua RT, tapi karena tidak ditunjuk menjadi Ketua RT. Kalau sampai ditunjuk, wah, bisa jadi “RT beneran”. Rugi Terus, Ribet bin Tekor, Ruwet lan Torok (tekor/rugi)— beberapa akronim tentang RT.
Menjadi RT, benar dipandang sebagian masyarakat, tapi sebagian kecil saja, sebagian besar ngrasani di belakang. Jadi RT memang terhormat, tapi kehormatannya tidak sebanding dengan harga dan penghargaannya. Menjadi RT harus telaten, mengayomi warga dusunnya, menjaga kerukunan antartetangga, jika salah ucap dan tindak sedikit saja, maka norma dusun akan “berbicara”.
Pak Cipto yang mendengar namanya dipanggil Pak Lurah terkejut. Dia tidak menyangka dirinya akan ditunjuk menjadi Ketua RT. Ia hanya petani biasa, lahan dan kebun tidak ada setengah hektare. Pendidikan tamatan SD, baca Quran saja masih mengeja, alif, ba, ta. Karena itu seringkali kalau yasinan dan tahlilan ia mencari buku Yasin yang ada tulisan arab-latinnya.
Melihat gelagat Pak Cipto yang bimbang, duduk-bediri, duduk lagi, kemudian berdiri, Pak Lurah berinisiatif mendekati Pak Cipto, kemudian mengelus pundaknya. “Ayo, tidak apa-apa Pak. Silakan berdiri dan berikan sambutan,” pinta Pak Lurah.
“Tapi, ehhmmm tapi, Pak…,” Pak Cipto ragu.
“Sudah tidak apa-apa. Mari kita buktikan, bahwa pendidikan tinggi dan kaya materi tidak menjamin terpilih menjadi Ketua RT,” Pak Lurah memberi motivasi.
Demi mendengar hal tersebut, Pak Cipto mantap, melangkah maju memberikan sambutan, sekitar dua menit saja. Puji syukur, shalawat nabi, ucapan terima kasih, mohon maaf, dan sekian.
RT 13 kini sudah memiliki ketua baru. Pak Cipto menjalankan tugasnya dengan baik. Ketika ada warga meminta dibuatkan surat pengantar surat tidak mampu, ia buatkan. Ada warga meminta dibuatkan surat pengantar membuat KTP, ia layani dengan baik. Pak Cipto tidak buta huruf, namun perlu beberapa lama membaca dengan mengeja, dan menulis dengan terbata-bata, maklumlah hanya tamatan SD yang juga pengalaman hidupnya jarang bersentuhan dengan alfabet, kecuali nominal uang. Pak Cipto pandai sekali berhitung soal rupiah.
Jika ada undangan rapat, maka ia cukup membaca hari dan tanggal serta jamnya saja, yang lain tidak. Begitu juga, ketika ada warga yang diberi formulir surat pengantar, cukup ia perintahkan “Lengkapi isinya! Jangan ada yang terlewat!” kemudian setelah diisi, dilihantya formulir itu seolah meneliti, kemudian mengangguk seakan mengerti lengkap atau tidak. Barulah ia menandatangani. Pak Cipto merasa penting, baru kali ini tanda tangannya berharga. Tanda tangan orang penting, begitu pikirnya.
Pak Cipto semakin terkenal di dusunya. Ia cakap, amanah, dan berdedikasi. Kepercayaan diri Pak Cipto meningkat. Jika ada rapat di desa ia berusaha mengacungkan tangan dengan mendahului kata “interupsi!” yang ia sering dengar di layar TV. Popularitas Pak Cipto semakin meningkat, tidak hanya di dusun, tetapi sedesa mengenalnya.
Penampilannya semakin necis dan klimis. Sering berdandan rapi, berpeci hitam, bersepatu vantopel, rambut yang disisir rapi dan berminyak. Jam tangan selalu ia kenakan, entah itu mati atau tidak. Pulpen selalu terselip di saku kiri bajunya. Sering pergi ke kantor kelurahan, selalu terlihat berbicara serius dengan beberapa staf desa. Apalagi ketika ada kegiatan desa, nama Pak Cipto selalu disebut MC, “Kepada yang terhormat Pak Cipto, dipersilakan untuk memberikan sambutan…” tersenyum bangga ia ditunjuk, sambil melihat kanan-kiri hadirin yang lain.
Jika berpapasan dengan tetangga, “Ke mana Pak Cip?” dengan mantap Pak Cipto menjawab, “Ada proyek!”, “Ada program!” ,“Ada rapat!” “Ada urusan!”, “Ada bisnis!” semacam orang penting yang paling penting dan orang-orang harus mengetahui bahwa ke mana pun Pak Cipto pergi, memang ada urusan penting yang harus diselesaikan. Dan urusan itu tidak akan bisa terselesaikan kalau Pak Cipto selaku Ketua RT tidak menanganinya sendiri.
