Sebelum kedua tanganku melar karena tingkah kekanakan mereka, aku akhirnya melepas tanganku dengan paksa. Menyeret salah satu adik baru yang ikut di ndalem. Dia sedang mencuci piring. Lalu aku mengajaknya dengan sedikit paksa dan dia ikut saja. Kami bahkan belum membereskan urusan dapur.
Di ruang tamu, Gus Bah sedang asik bermain laptopnya. Ini adalah satu-satunya alasan mengapa para abdi putri yang lain selalu merengek ikut ke ndalem. Hanya untuk bisa menatap paras tampannya. Beliau memang hobi bermain desain. Itu pula yang membuatnya kuliah jauh-jauh ke luar daerah. Meskipun saat ini, selama beberapa bulan beliau sudah di rumah karena pandemi.

“Assalamualaikum, Gus. Ini saya mau tanya menu untuk nanti sore.”
“Oh Aisy, iya kayak kemarin saja. Abah sama Ibu ke luar kota kok. Jadi gak usah banyak-banyak masaknya.”
Deeggg…
Senyum manisnya itu membuat dadaku sedikit kacau. Aku akhirnya meminta pamit untuk kembali ke dapur. Namun belum lagi membalikkan badan, ada orang yang tiba-tiba muncul dari tirai ruang tengah.
“Bro, ini mau ditaruh mana Box-nya?”
“Oh taruh aja di pojok kamar. Sebelah meja belajar itu loh.”
“Ah, Dasar merepotkan.” Suara itu jelas aku kenal, begitu juga dengan kalimatnya. Yang membuatku kaget adalah ucapan itu ditujukan kepada Gus Bah. Bahkan seluruh pondok juga tahu. Bila Gus Bah tak berkenan dengan seorang santri, beliau akan langsung mengusirnya. Apa pun alasannya.
Memang menyebalkan anak itu. Tak ada sopan santun. Dia memperlakukan junjungan semua orang di pondok layaknya teman sendiri. Dan terlebih lagi, kata-kata “Dasar merepotkan” miliknya diserapahkan pada tiap orang. Tak terkecuali pada junjungan kami!
Pagi ini Kiai akan pulang. Ada instruksi untuk membuat jamuan makan. Para santri sudah beranjak menyibukkan diri. Kerja bakti, bersih-bersih musala, menghias pagar, menyiapkan makanan. Tak lama ada pengantar air ke dapur, banyak sekali. Hampir belasan jerigen besar. Dan tak ada laki-laki seorang pun untuk mengangkatnya. Tak mungkin para santriwati ini kuat meski bersatu.
“Heh, kamu Zuhri! Cepetan bantuin ini angkat ke dapur!” Untungnya pemuda menyebalkan itu lewat. Sepertinya dia dari Gus Bah lagi.
“Dasar merepotkan!” kalimatnya singkat dan padat, juga tajam menusuk hati.
Dia hanya berkata seperti itu lalu pergi. Aku geram bukan kepalang. Arrrggh, kenapa Gus Bah tidak menendangnya saja dari pondok. Aku bingung sendiri karena air-air ini untuk kebutuhan mencuci piring dan juga menyuguhkan minum untuk para tamu Abah Kiai. Ibu Nyai datang dengan sedikit geram ke dapur. Karena kopi dan teh belum juga disuguhkan.
