“Tadi airnya habis Bu, dan tidak ada yang bisa mengangkut jerigen ke dapur.” Semua abdi ndalem hanya diam. aku menjawab agar mereka tak lagi terkena “dawuh” dari bu Nyai.
“Tadi ada satu akang, tapi dia menolak untuk membantu.” Kupikir ini kesempatan untuk mengadukan anak menyebalkan itu. Ya, ini waktu yang pas.

“Siapa, biar dia boyong setelah ini juga!”
“Itu, Za…Zahri, Nyai,” aku bahkan tak akan berani menatap mata bu Nyai ketika marah. Abah sekalipun akan tunduk pada saat itu.
Namun ekspresi Bu Nyai tampak tak karuan. Seperti ingin marah tapi tak jadi. Beliau diam sejenak. Lalu meredam marahnya.
“Coba kamu kembali ke dapur, cepat sajikan minumnya setelah ini.”
Hah, bukannya aku bilang jelas tadi. Kenapa jadi begini? Aku bergumam sepanjang lorong tengah sampai dapur. Tak kusangka ada Gus Bah di belakang. Ia tengah mengambil segelas air.
“Ah, maaf Gus. biar saya ambilkan.” Namun dia menahan dengan isyarat tangan.
“Kamu, tadi dimarahi ya?” Beliau mengatakan itu dengan tersenyum. Sedikit mengesalkan tapi manis sekali. Aduh, salah tingkah kan jadinya.
“Zahri tadi bilang padaku. Kalau dia akan diadukan agar kena marah. Aku pikir tadi dia mengigau. Tapi ternyata betul. Hi-hi-hi…”
Aku hanya tertunduk malu. Tapi aku sudah tak tahan. Diawali permintaan maaf terlebih dahulu, aku menyampaikan kekesalanku terhadap Zahri kepada Gus Bah. Namun dia hanya terkekeh.
“Zahri itu punya prinsip ‘Langit tak perlu bilang kalau dirinya tinggi’.” Dan alisku hanya terkumpul di tengah dahi ketika mendengar kata-kata itu.
“Ikhlas tak perlu diucap untuk menuai bukti.” Lalu Gus Bah pergi ke depan dengan segelas air putih di tangannya.
Saat kulihat ke belakang, belasan jerigen itu sudah tertumpuk rapi dengan isi yang kosong. Telah di pindahkan isinya ke tandon masak dan cuci piring. Tapi oleh siapa? Tak mungkin anak itu. Dasar menyebalkan, beraninya dia mempermainkanku dengan kata-katanya.
