Dalam pesantren, santri tidak hanya melulu diberi asupan ilmu agama yang memang menjadi prioritas. Namun, santri juga diajari untuk memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan dan sosial. Hal itu dibuktikan dengan beberapa peraturan yang diterapkan di pondok pesantren untuk memupuk semangat kepedulian itu, seperti kegiatan kerja bakti (ro’an), program bakti sosial, dan kegiatan lain yang mencakup ruang lingkup lingkungan dan sosial. Zero waste sebenarnya juga merupakan salah satu prinsip yang dianjurkan oleh agama Islam, sehingga pesantren yang bernapaskan islami tentu akan mengalami kesulitan dalam menerapkan program ini.
Peluang pesantren dalam menerapkan zero waste didukung oleh sumber daya manusia yang melimpah dan relatif mudah untuk diarahkan. Sehingga, zero waste dapat dengan mudah diterima dan dilaksanakan oleh seluruh warga pesantren. Zero waste yang mengharuskan untuk memiliki jiwa dan usaha yang kreatif agar bagaimana sampah itu tidak berakhir sia-sia di TPA. Dalam hal ini, kaum santri memiliki kapabelitas yang sangat besar. Dan itu dibuktikan dengan beberapa program lanjutan zero waste, seperti daur ulang sampah, menciptakan produk dari sampah, dan usaha kreatif lainnya.

Kabar baiknya, dewasa ini peluang-peluang itu disadari dan sudah mampu dimanfaatkan kalangan pondok pesantren, khususnya pesantren modern yang selalu menekankan dan mensosialisasikan tentang pentingnya kebersihan lingkungan dan kesadaran sosial.
Tantangan Penerapan Zero Waste
Kendati peluang yang dimiliki pesantren dalam mengimplemetasikan zero waste cukup besar, namun tantangan atau kendala itu selalu ada. Sumber daya manusia yang banyak menjadi peluang untuk zero waste, namun ketika hal itu tidak dibarengi dengan konsistensi dan kesungguhan dalam menjalankan program ini, justru peluang itu akan menjadi tantangan. Selain itu, tantangan juga disebabkan oleh beberapa kebijakan pesantren yang justru tidak sesuai dengan zero waste, seperti pelegalan rokok dan pemakaian plastik yang tidak dibatasi.
Tantangan itu juga bisa disebabkan oleh kurangnya sosialisasi pihak pesantren terhadap para santri agar mengurangi gaya hidup yang konsumtif dan beralih ke gaya hidup zero waste. Sebab, banyak santri yang terkadang kurang mampu dimaksimalkan sumber dayanya dan kurangnya kepedulian terhadap lingkungan dan sosialnya.

Zero Waste: Jika dimaksudkan sebagai “bebas sampah” adalah tidak mungkin. Tetapi di tulisan ini, dalam pemahaman saya, adalah pengelolaan sampah agar sampah-sampah yang ada dapat dikelola dengan sedemikian sehingga tidak menjadi problem di lingkungan sekitar. Sampah dalam sebuah komunitas manusia pasti ada. Namun dengan pengelolaan yang baik akan menjadi peluang untuk kemanfaatan bagi kita semua. Intinya: Tulisan ini inspiratif, berkualitas, dan bermanfaat!!!
makasih kak atas komentarnya….itu yang dimaksud bebas sampah cuma sebatas makna tekstual dari zero waste. Namun, yang selalu disampaikan kyai, zero waste adalah sebuah prinsip.