Di duniasantri.co saya dapat bertegur sapa dengan banyak santri dari berbagai pondok yang ada di Indonesia. Hal ini semakin memberikan pengalaman dan pembelajaran dalam kehidupan, bahwa nun jauh di sana begitu banyak pondok dan lembaga pesantren, baik yang sekopnya kecil maupun yang sudah terkenal hingga ke manca negara. Pertemanan ini akan semakin menarik dan memberikan efek positif ketika dideskripsikan dalam bentuk naskah tulis dari berbagai genre.
Salah satu naskah tulisan yang saya nanti-nantikan adalah “Potret Pesantren Mandiri,” yang dalam hal ini masih terjabarkan dua pesantren dari sembilan pesantren yang terekam. Potret Pesantren Mandiri ini memberikan gambaran yang lebih jelas terkait dengan kegiatan dalam sebuah pesantren yang tidak hanya terpaku dan terpukau oleh pengajian dan ritual peribadatan. Bukan berarti ngaji dan ibadah tidak penting, akan tetapi mandiri dalam makna positif memberikan makna yang lebih komprehensif daripada pesantren kebanyakan. Maka, hingga saat ini kelanjutan potret kemanadirian pesantren ini sangat saya tunggu.

Tentu saja, dari deskripsi sebuah pesantren akan memberikan hikmah kebaikan untuk saling memberikan kabar kebaikan. Sehingga, bagi pesantren lainnya dapat dijadikan semacam studi banding agar kebaikan itu menular dan dapat dipraktekkan di pesantren yang lainnya. Di sini makna relasi semakin jelas, membawa kemanfaatan dalam rangka menjadikan manfaat dalam kebersamaan kebaikan.
Namun kita tidak boleh abai, terkait dengan relasi (teman, kawan, handai tolan, kanca, konco, dan lain-lain) bahwa “Manusia yang paling lemah adalah orang yang tidak mampu mencari teman. Namun, yang lebih lemah dari itu adalah orang yang mendapatkan banyak teman tetapi menyia-nyiakannya.” (Ali bin Abi Thalib).
Melalui kesempatan anniversary duniasantri.co yang ke-2, saya mengucapkan, “Selamat ulang tahun, semoga relasi jejaring kepesantrenan semakin berkualitas dan berhikmah.”
