“Mau diadakan di mana tumpengannya?”
Saat itu, Pak Wawan, menantu Pak Bisri yang mendiami rumah Pak Bisri, duduk persis di depan saya. Saya melihat Pak Wawan, dan seketika dalam pikiran terlintas Rumah Merah.

“Ya di Rumah Merah saja, seperti dulu,” kata saya. Dan semua bersetuju. Maka, inilah untuk pertama kalinya, setelah “pengembaraan” yang panjang, tumpengan duniasantri kembali diadakan di Rumah Merah.
Tentu saja acaranya disiapkan secara sederhana. Sangat sederhana, bahkan. Hanya mengundang pengurus, panitia Festival, dan beberapa orang yang telah menjadi bagian dari keluarga jejaring duniasantri. Mungkin hanya 10-15 orang.
Dalam proses persiapannya, Mahwi Air Tawar dan beberapa yang lain sempat mengusulkan ini-itu. Tapi saya langsung tak setuju. Saya “takut” yang lalu-lalu terulang lagi: seringkali duniasantri menyiapkan suatu acara atau kegiatan kecil yang sederhana, tapi tiba harinya malah berujung menjadi acara besar. Melibatkan begitu banyak orang. Membutuhkan dan menguras banyak sumber daya.
Yang besar biarlah Festival-nya. Biarlah tumpengan hari ini tetap sederhana, dengan keintiman yang sederhana. Menjadi harinya orang-orang duniasantri. Hari untuk menyerap energi. Hari untuk membasuh hati.
Dan teruslah istakamah, duniasantri.

Subhanallah, semoga jejak sejarah Bapak Bisri Effendi tetap tegap melangkah menuju puncak kegemilangan,,,