PEREMPUAN TENGAH MALAM

Setiap menjelang tengah malam, perempuan berusia senja itu dengan tekun menggeruskan cobeknya, seserius seperti saat seorang gadis sedang mengurus masa depannya. Tapi masihkah nenek setua itu paham, atau punya, akan sesuatu yang bisa disebut sebagai masa depan —seperti bila seorang gadis membayangkannya?

Entahlah. Dalam usia serenta itu, mungkin di atas enam puluh tahun, ia memilih hidup sendiri. Jauh dari kegaduhan anak-anaknya atau kebisingan cucu-cucunya. Sendiri, ia tinggal di sebuah kamar sewaan seharga Rp 200 ribu per bulan. Sendiri, ia tak pernah acuh pada suasana gaduh yang datang dari kamar-kamar sebelah atau para tetangganya yang doyan bertingkah. Maka, setiap menjelang tengah malam dan selalu duduk bersimpuh di depan pintu, dengan tekunnya ia menggeruskan cobeknya. Dan dari atas cobeknya menyebar harum bau kunyit, kencur, jahe, dan hasil tetumbuhan lain. Nenek itu, hingga fajar menjelang, terus meramu jamu, untuk kemudian, esok harinya, dijajakan entah ke mana.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tinggalkan Balasan