Pohon rambutan itu tumbuh di sisi musala tua yang terbuat dari sirap, tepat di atas jalan kampung tak beraspal yang melengkung tumpul dan penuh kerikil. Usia pohon dan musala itu diperkirakan sama. Keduanya sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang, buah karya tangan dingin kiai kampung saat itu —yang konon juga dikenal sebagai seorang wali Allah— bernama Ki Nolam.
Pohon rambutan itu terus berbuah lebat sepanjang musim tak putus-putus. Ujung rantingnya bersanggul gundukan buah yang merah-merah. Beruntung pohon itu berdahan kekar sehingga tak merunduk meski harus menahan buah lebat.

Ajaibnya, tak ada kelawar, tupai, dan hewan pengerat lainnya yang berani memangsa buah itu. Hewan-hewan itu hanya melompat-lompat atau beterbangan di sekitanrya, seolah patuh pada arwah si penanam pohon itu agar tidak memakannya. Padahal, siapa pun mengakui, buah rambutan dari pohon itu punya rasa khas yang lezatnya melebihi buah-buah dari pohon rambutan lain.
Kata tetua dusun, siapa saja yang tubuhnya terkena rambutan Ki Nolam yang jatuh sendiri dari pohonnya, maka ia bakal menjadi orang saleh yang akan membawa kedamaian. Tapi, di suatu sore, sebuah rambutan jatuh tepat menonjok kepala Rustam yang kebetulan sedang berjalan di bawahnya. Rustam bukan bahagia, tapi malah misuh-misuh. Kejadian itu dilihat beberapa orang, dan membuat warga saling bisik. Antara percaya dan tidak. Nyaris seluruh dada menyimpan tanya; apakah orang sejahat Rustam yang sering mencuri, merampok, berzina, dan suka mabuk itu bakal jadi orang saleh?
“Sepertinya sangat mustahil jika Rustam akan berubah baik, sebagaimana mustahilnya sebuah rambutan yang luruh mendekap tanah untuk bisa kembali bergantung di rantingnya,” sumbang Man Sahir kepada teman-temannya yang tengah membincangkan peristiwa itu di warung Bi Juna. Semua teman Man Sahir pun mengangguk, sambil menyeruput kopi, dan mengepulkan asap rokok.
Pada saat kejadian itu, Rustam marah-marah kepada dirirnya saat sebuah rambutan jatuh mengenai kepalanya. Buah rambutan itu ia pungut, diremas sekuat tenaga dalam kepalan tangannya. Berkali-kali ia mengulangi remasannya sampai daging buah itu mencuat dan mengucurkan air. Tak puas, ia megepalnya lagi, hingga dalam genggamannya hanya tersisa sebutir biji keras penuh garis-garis putih. Lalu Rustam melemparnya ke ujung pancuran musala Ki Nolam, dan menimbulkan suara seperti benda menggelinding.
“Bangsat! Aku tidak akan menjadi orang baik, percuma kau jatuh ke tubuhku,” bibir Rustam menyipit ke samping seolah sedang mengejek pohon rambutan yang ada di depannya.
Perbincangan mengenai Rustam yang dijatuhi buah rambutan itu terus berlanjut dari mulut ke mulut, dari hari ke hari, dari tempat ke tempat. Dan benak setiap orang pun menyajikan pendapat yang beragam. Ada yang menganggap mustahil jika Rustam akan menjadi baik, karena sampai saat ini ia dinilai sudah terlalu hitam dan nyaman jadi pendosa. Ada pula yang beharap ia segera jadi orang baik, agar suasana kampung nyaman dan tenang.
Sudah terlalu lama Rustam jadi pengacau di kampung itu. Berkali-kali ia keluar-masuk penjara. Kepala desa dan para kiai sudah sering menasihatinya. Tapi ia bagai besi tua yang tak mempan dijilat api para pandai besi. Hatinya tetap keras dan selalu punya naluri untuk berbuat jahat kepada orang lain. Parahnya, ia melakukan kejahatan itu di kampungnya sendiri, tanpa rasa malu sedikit pun.
