Suara Bu Mariye

Bu Mariye adalah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di sebuah kampung di pinggiran kota. Ia memiliki suami yang bekerja sebagai tukang ojek dan tiga orang anak yang masih sekolah. Dia adalah orang yang sederhana, rajin, dan jujur. Ia selalu berusaha untuk menyenangkan keluarganya dengan memasak, mencuci, dan membersihkan rumah.

Suara Bu Mariye adalah salah satu harta yang paling ia banggakan. Ia memiliki suara yang merdu dan indah. Ia sering menyanyi di acara-acara kampung, seperti hajatan rakyat, arisan, atau pernikahan. Orang-orang di kampungnya sangat mengagumi suara Bu Mariye. Mereka selalu memuji dan memberi semangat kepadanya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bu Mariye juga suka menyanyi di rumah. Ia sering menyanyi sambil memasak, mencuci, atau membersihkan rumah. Suara Bu Mariye membuat rumahnya terasa hangat dan ceria. Suaminya dan anak-anaknya sangat menyayangi ibu Mariye. Mereka selalu mendengarkan dan menghargai suaranya.

***

Sebelum menjelang bulan pemilu, pencuri mulai menyurvei perkampungan. Mereka melihat bahwa kampung itu adalah tempat yang potensial untuk dicuri suaranya. Mereka melihat bahwa orang-orang di kampung itu adalah orang-orang yang mudah ditipu. Mereka tidak tahu apa-apa tentang politik dan demokrasi. Mereka hanya tahu tentang hidup sehari-hari.

Pencuri suara itu juga melihat bahwa Bu Mariye adalah salah satu orang yang paling populer di kampung itu. Mereka melihat bahwa Bu Mariye memiliki suara yang bagus dan banyak penggemar. Mereka berpikir bahwa jika mereka bisa mencuri suara Bu Mariye, mereka bisa mencuri suara banyak orang lain di kampung itu. Mereka berpikir bahwa Bu Mariye adalah target yang sempurna.

***

Pada suatu hari, pencuri itu datang ke rumah Bu Mariye. Mereka datang di siang hari, saat suami dan anak-anak Bu Mariye sedang keluar. Mereka berpura-pura sebagai tim relawan dari partai politik yang mereka dukung. Mereka membawa baju, topi, dan selebaran yang bertuliskan nama partai dan calonnya.

Mereka mengetuk pintu rumah Bu Mariye dengan ramah. Ibu Mariye yang sedang memasak di dapur, mendengar suara ketukan. Ia pun keluar untuk melihat siapa yang datang. Ia terkejut melihat ada empat orang asing yang mengenakan atribut partai politik di depan pintunya.

“Halo, ibu. Kami dari Partai Parah (pantang nyerah). Kami datang untuk menyapa dan mengajak ibu untuk mendukung partai kami di pemilu nanti,” kata salah satu tim relawan dengan senyum manis.

“Ibu tahu kan, partai kami adalah partai yang paling peduli dengan rakyat. Partai kami memiliki visi dan misi yang jelas untuk membangun negeri ini menjadi lebih baik. Partai kami juga memiliki calon yang berkualitas dan berintegritas. Calon kami adalah orang yang berpengalaman dan berprestasi. Calon kami adalah orang yang bisa membawa perubahan positif untuk Indonesia,” kata tim relawan lainnya dengan nada meyakinkan.

“Ibu, kami harap ibu mau mendukung partai kami. Kami harap ibu mau memberikan suara ibu untuk partai kami. Kami harap ibu mau menjadi bagian dari perjuangan kami. Kami harap ibu mau menjadi bagian dari sejarah Indonesia,” kata tim relawan ketiga dengan nada mengharu-biru.

“Ibu, kami tidak datang dengan tangan kosong. Kami membawa hadiah untuk ibu. Ini adalah baju dan topi dari partai kami. Ini adalah selebaran yang berisi program-program partai kami. Ini adalah uang sebesar lima ratus ribu rupiah. Ini adalah beras sebanyak sepuluh kilogram. Ini adalah sembako yang berisi minyak, gula, kopi, teh, dan lain-lain. Ini semua adalah tanda terima kasih kami kepada ibu. Ini semua adalah tanda cinta kami kepada ibu,” kata tim relawan keempat sambil menyerahkan barang-barang yang mereka bawa.

Bu Mariye yang mendengar semua itu, merasa bingung dan terkejut. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ia tidak tahu apa-apa tentang partai politik yang mereka maksud. Ia tidak tahu siapa calon yang mereka pilih. Ia tidak tahu apa visi, misi, dan program mereka. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan barang-barang yang mereka berikan.

Tinggalkan Balasan