Nufusu Auliya’

Alkisah, seorang kepala suku Bani Syam tengah berdoa kepda Tuhan agar diberikan anak. Istrinya menyarankan agar mereka berdua bersujud di hadapan Tuhan dan dengan tulus memohon kepada Allah memberikan anugerah kepada mereka berdua.

“Mengapa tidak?” kata sang kepala suku kepada istrinya. “Kita harus mencoba berbagai macam cara. Mari, kita coba sekali lagi, tak ada ruginya.” Mereka pun bersujud kepada Tuhan, sambil berurai air mata dari relung hati mereka yang terluka.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Wahai Segala Kekasih, jangan biarkan pohon kami berbuah pahit pada kehidupan dan jangan busukkan buah kami agar dia merasakan indahnya Kasih Sayang. Izinkan kami merasakan manisnya menimang anak dalam pelukan kami. Anugerahkan kepada kami tanggung jawab untuk membesarkan seorang manusia yang baik. Berikan kesempatan kepada kami untuk membuat-Mu bangga akan anak kami.”

Tak lama kemudian, doa mereka dikabulkan, dan Tuhan menganugerahi mereka seorang anak laki-laki yang diberi nama Nufus. Sang ayah sangat berbahagia, sebab Nufus dicintai oleh semua orang. Ia tampan dan berambut lurus nan hitam, yang menjadi pusat perhatian serta kekaguman. Sejak awal, Nufus telah memperlihatkan kecerdasan dan kemampuan fisik istimewa. Ia punya bakat luar biasa dalam mempelajari ilmu, menggubah syair dan menulis. Bahkan salah seorang gurunya berkata kepada ayah Nufus, bahwa Nufus mempunyai kelebihan istimewa yang mana orang-orang disibukkan dengan belajar, sedang dia diam sudah mendapatkannya.

Ketika sudah cukup umur untuk masuk pesantren, ayahnya memutuskan mengutus dia ke pesantren atas saran gurunya.  Nufus dipondokkan di pesantren yang berada di desa Bahrul Ulum (Lautan Ilmu) terpandang di seluruh jazirah Andalusia. Di antara mereka ada seorang anak perempuan dari kepala suku tetangga. Seorang gadis bermata indah, yang memiliki kecantikan luar biasa. Rambut dan matanya sehitam malam. Karena alasan inilah mereka menyebutnya Auliya’, “Sang Kekasih”.

Meski ia baru berusia dua belas tahun, sudah banyak pria melamarnya untuk dinikahi. Sebab, sebagaimana lazimnya kebiasaan di zaman itu, gadis-gadis sering dilamar pada usia yang masih sangat muda (untuk dijodohkan ), yakni sembilan tahun. Auliya’ dan Nufus adalah teman sekelas. Sejak hari pertama masuk sekolah, mereka sudah saling tertarik satu sama lain. Seiring dengan berlalunya waktu, percikan ketertarikan ini makin lama menjadi api cinta yang membara. Bagi mereka berdua, sekolah bukan lagi tempat belajar. Kini, sekolah menjadi tempat mereka saling bertemu. Ketika guru sedang mengajar, mereka saling berpandangan. Ketika tiba waktunya menulis pelajaran, mereka justru saling menulis namanya di atas kertas.

Bagi mereka berdua, tak ada teman atau kesenangan lainnya. Dunia kini hanyalah milik Nufus dan Auliya’ . Mereka buta dan tuli pada yang lainnya. Sedikit demi sedikit, orang-orang mulai mengetahui cinta mereka, dan gunjingan-gunjingan pun mulai terdengar. Di zaman itu, tidaklah pantas seorang gadis dikenal sebagai sasaran cinta seseorang dan sudah pasti mereka tidak akan menanggapinya.

Ketika orang tua Auliya’ mendengar bisik-bisik tentang anak gadis mereka, mereka pun melarangnya. “Kamu ini di pesantren, jangan bermain cinta. Fokus dengan tholabul ilmi-mu.”

Mereka tak sanggup lagi menahan beban malu pada masyarakat sekitar. Ketika Auliya’ tidak ada di ruang kelas, Nufus menjadi sangat gelisah sehingga ia meninggalkan sekolah dan menyelusuri jalan-jalan untuk mencari kekasihnya dengan memanggil-manggil namanya. Ia menggubah syair untuknya dan membacakannya di jalan-jalan.

نَهَارِى نَهَارُ النَّاسِ حَتَّى اِذَا بَدَا

لِى اْللَيْلِ هَذَّا تِّنِى اِلَيْكَ الْمَضَاجِعِ

اَقْضِى نَهَارِى بِالْحَدِيثِ وَبِالمُنَى

وَيَجتَمِعُنِى وَالهَمِّ بِاللَيْلِ جَامِعِ

لَقَدْ اَثْبَتَتْ فِى القَلْبِ مِنكِ مَحَبَّةٍ كَمَا تَثْبُتُ فِى الَّداحَتَيِن

Siangku adalah siang yang lain

Bila malam tiba, tidurku sering terganggu wajahmu

Sepanjang siang aku habiskan untuk perbincangan manis dan harapan

Dan sepanjang malam aku dicekam murung dan kerinduan

“Cintaku padamu telah tertanam direlung kalbuku, jari-jari dua tangan kami selalu merekat erat.” Ia hanya berbicara tentang Auliya’ dan tidak juga menjawab pertanyaan orang-orang kecuali bila mereka bertanya tentang Auliya’. Orang-orang pun tertawa dan berkata,  “Lihatlah Nufus, ia sekarang telah menjadi seorang majnun, gila!”

Akhirnya, Nufus dikenal dengan nama ini, yakni “Majnun”. Melihat orang-orang dan mendengarkan mereka berbicara, membuat Majnun tidak tahan. Ia hanya ingin melihat dan berjumpa dengan Auliya’ kekasihnya. Ia tahu bahwa Auliya’ telah dipingit oleh orang tuanya di pesantren, yang dengan bijaksana menyadari bahwa jika Auliya’ dibiarkan bebas bepergian, ia pasti akan menjumpai Nufus.

Nufus menemukan sebuah tempat di desa Bharul Ulum di dekat asrama Nufus yang menghadap kamar Auliya’. Sepanjang hari Nufus hanya duduk-duduk di depan asramanya, di samping sungai kecil berkelok yang mengalir ke bawah menuju asrama itu. Ia berbicara kepada air, menghanyutkan dedaunan bunga liar, dan Nufus merasa yakin bahwa sungai itu akan menyampaikan pesan cintanya kepada Auliya’. Ia menyapa burung-burung dan meminta mereka untuk terbang kepada Auliya’serta memberitahunya bahwa ia dekat. Ia menghirup angin dari barat yang melewati asrama Auliya’. Jika kebetulan ada seekor anjing tersesat yang berasal dari  asrama Auliya’, ia pun memberinya makan dan merawatnya, mencintainya seolah-olah anjing suci, menghormatinya dan menjaganya sampai tiba saatnya anjing itu pergi jika memang mau demikian. Segala sesuatu yang berasal dari tempat kekasihnya dikasihi dan disayangi sama seperti kekasihnya sendiri.

Bulan demi bulan berlalu dan Nufus tidak menemukan jejak Auliya’. Kerinduannya kepada Auliya’ demikian besar sehingga ia merasa tidak bisa hidup sehari pun tanpa melihatnya kembali. Terkadang, sahabat-sahabatnya di sekolah dulu datang mengunjunginya, tetapi ia berbicara kepada mereka hanya tentang Auliya’, tentang betapa ia sangat kehilangan dirinya. Suatu hari, tiga anak laki-laki, sahabatnya yang datang mengunjunginya demikian terharu oleh penderitaan dan kepedihan Nufus sehingga mereka bertekad membantunya untuk berjumpa kembali dengan Auliya’. Rencana mereka sangat cerdik. Esoknya, mereka dan Nufus bertemu Auliya’ di perpustakaan.

Ketika Nufus masuk, Auliya’ tetap duduk. Sekalipun sudah diberitahu bahwa Nufus akan datang, ia tidak percaya bahwa pertemuan itu benar-benar terjadi. Nufus berdiri di pintu selama beberapa menit, memandangi sepuas-puasnya wajah Auliya’. Akhirnya, mereka bersama lagi!

Duhai Kekasihku

Betapa aku merindukanmu

Betapa indahnya seperti hari hari kemarin

Tetapi kini

Duhai Kekasihku

Diriku tak punya daya

Takdir telah memutuskan untuk memisahkan kita

Wahai Kekasihku

Apakah kita akan berpisah untuk selamanya

Salahkah diriku?

Setelah itu tak terdengar sepatah kata pun, kecuali detak jantung kedua orang yang dimabuk cinta ini. Mereka saling berpandangan dan lupa waktu. Sesudah terjadinya peristiwa itu, ayah Auliya’ mengubah perasaan Auliya’dan Nufus, satu sama lain, sungguh ia salah besar.

Tinggalkan Balasan