Sepatu Maradona dan Kaus Kaki Anakku

Apa yang menarik dari sebuah sepatu? Tak ada! Sebab apa? Sebab dia tak punya satu tangan pun. Tak ada tangan manalah dapat menarik apa-apa. Ah, apa pula ungkapan mengada-ada ini aku tuliskan di sini. Mohon maaflah sebab hal-hal yang tak penting ini terpaksa terbaca.

Kalau yang ini baru serius. Dulu, pada zaman aku masih di Sidimpuan, kalau tak salah pada saat aku masuk kelas lima abang aku datang dari Jakarta. Abang aku alhamdulillah sudah kerja di sana. Sekali dua tahun ia balik kampung dan berhari raya dengan keluarga. Abang aku belum menikah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tadi dini hari abang sampai di rumah. Aku hanya dengar samar-samar saja. Mak terbangun sebab ada yang ketuk-ketuk pintu rumah. “Dah sampe rupanya, Nak!” sapa mak begitu ia buka pintu. Aku dengar sayup-sayup mereka bercakap-cakap sebentar. Entah apa-apalah yang orang dewasa bicarakan.

“Jadi kau dapat cuti berapa hari….” habis itu hilang aku tertidur pulas lagi.

Subuh sudah datang. Aku rasa mukaku diperciki air.

“Bangun! Bangun! Katanya mau kek Maradona. Mana ada kalau jam gini masih tidur,” Abang rupanya yang bangunkan aku. Aku lihat badannya yang lumayan tinggi dan besar berdiri di hadapanku. Pantaslah ia terlihat besar. Aku dan dia berjarak delapan belas tahun. Aku bangun. Ia memberikan kain sarung padaku dan kami berangkat ke surau terdekat untuk salat subuh.

Singkat cerita, pada pukul sembilan siang itu dia minta aku menemaninya pusing-pusing kota. Aku ikut saja. Dia panggil becak mesin dan kami pun berangkatlah.

Rupanya dia mengajak aku ke Pajak Batu. Orang kami menyebutnya Pajak Batu karena pajak itu memanglah terbuat dari batu. Oh iya, aku lupa di kami pajak itu sama dengan pasar kalau di tempat lain.

“Ke mana kita, Bang?” tanyaku.

“Ikutlah!” jawabnya.

Aku pun bergegas berjalan di sampingnya.

Ia masuk ke sebuah toko sepatu. Aku agak kaget tapi sebagai lelaki kusembunyikan itu. Apakah ia hendak membelikan sepasang sepatu untukku? Aku tak mau mengatakan bahwa ia hendak membelikan sepatu baru, sebab aku kan belum pernah punya sepatu sebelumnya. Artinya aku tak punya sepatu lama, kan? Jadi macam mana pula aku dapat mengatakan jika sepatu yang baru dibelikan ini sepatu baru? Sepatu baru itu memanglah baru dan masih terbungkus dalam kemasannya. Tapi bagaimana aku dapat mengatakan kalau sepatu ini sepatu baru? Aku kan tak punya yang lama!

Sebelumnya, aku ke sekolah pakai sendal Lily atau sandal japang saja. Kalau malam turun hujan maka baiknya kaki ayam saja, kalau tidak sendal bisa rusak seketika semisal talinya putus tengah atau putus ujung. Kalau putus tengah tamatlah kaji sendal itu. Kalau putus ujung masih dapatlah dipada-padakan. Ujung tali sepatu dapat dibesarkan dengan lilitan karet gelang atau dapat pula ditambahkan kancing peniti agar tersangkut dia dan tak lepas.

Sambil melihatku, Abang berkata, “Pilihlah mana kau suka!”

Sebetulnya ia berkata pelan. Entah kenapa kok seperti ada pelantang yang menyasar ke telingaku ketika dia bilang “Pilihlah mana kau suka!” Mau pingsan rasanya. Aku yang tak pernah punya sepatu lama ini akan punya sepatu baru. O mak..!

Aku tatap wajah abang. Itu hanya sekadar memastikan kalau yang ia bilang memang benar. Bolehlah ikut membayangkan macam mana kerling mataku tadi menatap dari sudut sempit tak percaya diri. Bukan! Bukan memelas atau mengiba! Pantang bagiku! Hanya memastikan , kan boleh. Abang mengangguk kecil dan tersenyum sedikit juga.

Di pasar tadi, aku sengaja pilih sepatu yang agak bergerigi tapaknya. Baiknya sepatu aku itu nampak sebagai sepatu sepak bola. Sepatu “Maradona Kampung Sipirok” pantasnya kan pakai sepatu yang mirip dengan sepatu “Maradona Argentina” itu, kan… kan… kan. Abang aku tersenyum saja sambil membayar sepatu aku itu. Aku kan tak menyebutnya sepatu baru. Aku kan belum punya yang lama!

Balik dari Pasar Baru, aku gamit sepatu mirip sepatu sepak bola aku itu di ketiakku. Takut jatuh pun! Jangan sampailah karton kemasannya peyot-penyot, tak elok kan! Sayang kali aku sama sepatuku sepatu Maradonaku! Tak paham aku soal harga, tak hendak paham aku berapa uang yang abang aku keluarkan untuk ini. Pelukanku pada pengemas sepatu aku nih begitu erat sehingga tak hendak pun ia lepas. Makin dekat ke rumah makin erat kugamit kemasan sepatuku. Makin dekat makin erat. Takutnya aku kalau dia lepas. Pas masuk rumah kutengok kemasan sepatuku. Alamak, dah peyot-penyok tak tentu bentuk tak kenal rupa!

“Apa kabar sepatu “maradonaku” ya?” aku bertanya dalam hati. “Jangan-jangan….”

Tinggalkan Balasan