“Nggak tuh,” ia berdiri dan menjejak-jejakkan kakinya ke lantai. “Sepatunya nggak bikin kaki aku sakit,” balasnya. Aku senyum. Aku coba membujuk sekali lagi. Aku carikan cara agar mood-nya tidak rusak dan tetap dalam kondisi senang berangkat sekolah.
“Sayang lho, sepatu baru akan kelihatan lebih baru kalau pakai kaus kaki juga,” aku berusaha melembut-lembutkan suaraku.

“Ayah sih milih sepatunya yang kayak gini. Mama aja milihnya yang halus buat aku. Sepatu yang mama pilih enak dan nggak usah pakai kaus kaki,” ia menjelaskan.
Sudahlah. Aku menurut saja.
Pepatah mengatakan banyak berjalan banyak dilihat. Kami berjalan dan banyak juga yang kami lihat. Pohon perdu, dealova, alang-alang, rumput gajah, pohon jagung, putri malu, dan rumput jepang yang tumbuh di depan rumah tetangga yang jarang keluar rumah itu adalah hasil penglihatan dan pengamatan yang kami lakukan. Adakalanya anakku berjongkok mengamatinya, adakalanya ia menyebut nama-nama tumbuhan itu sambil lewat saja. Ia ucapkan nama-nama itu sambil tertawa-tawa atau kadang-kadang ia memplesetkannya. Ia senang. Ha-ha, katanya. Hi-hi pun ia lantunkan. Ia mengenal rerumputan. Semoga ia dapat menyerapnya sebagai energi yang kelak menjadi daya hidup baginya.
Kali ini kami tiba lebih pagi di sekolah. Ibu gurunya dan beberapa guru yang lain, seperti biasanya, berdiri sejajar pintu pagar sekolah menyambut siswa-siswa yang tiba. Anakku meraih tanganku cepat-cepat. Aku paham sudah. Itu adalah isyarat tegas bahwa batas antar-jemput yang anakku setujui adalah pagar. Itu tegas dan nyata darinya.
“Assalamualaikum, Bang Hanif,” ibu gurunya menyapa.
“Alaikum salam, Bu Guru,” balasnya.
Aku menangkap kilatan ekor mata sang guru terfokus ke sepatu anakku. Aku terharu. Betapa perhatiannya ibu guru kita ini.
“Wah, Abang Hanif sepatu baru ya?” ibu guru memverbalkan perhatiannya. Anakku senyum-senyum malu. Ia tak hendak menjawab.
“Kalau sepatu kemarin cocok nggak pakai kaus kaki. Kalau yang ini cocoknya pakai kaus kaki. Kulitnya keras. Nanti kaki abang lecet lho. Pakai kaus kaki ya!” ibu gurunya menambahkan.
Seketika anakku berbalik ke arahku. Air mukanya yang tadinya merona merah mendadak mengabu-abu masam. Matanya membelalak, bibirnya mengatup tangannya terkepal. Ia memburuku. Ia layangkan pukulan ke perutku. Aku biarkan mendarat barang satu dua kali. Setelah sepersekian menit ia lampiaskan amarahnya, setelah agak mereda aku peluk anakku. Kuusap kepalanya tanda simpati.
“Ibu guru nggak marah kok sama kamu. Bu guru hanya nanya aja,” kataku. “Jangan marah ya,” aku membujuknya. Ia mengangguk. Aku lihat ibu gurunya merasa menyesal atas kejadian itu. Ia memperlihatkan gestur hendak menetralkan situasi. Tapi aku balas dengan isyarat bahwa kami bisa menyelesaikan semuanya.
Aku mengajak anakku sedikit menjauh dari pintu pagar sekolah. Kami diam saja sejenak. Matanya tertuju pada seonggok pohon nanas kecil yang ada di kebun depan sekolah. Biarlah ia menumpahkan sejuta pertanyaan pada pohon nanas tak berbuah itu. Ajaib! Kecamuk gejolak rasa itu reda. Aku senyum padanya. Ia balas senyum. Ia kepal tangannya lalu memukulkannya ke bahu bagian atasku.
“Masuk ya?” aku hela tangannya. Ia mengangguk. Aku tuntun ia ke arah pintu pagar sekolah.
“Memangnya kenapa sih nggak mau pakai kaus kaki?” aku tiba-tiba bertanya.
“Nanti kalau berhitung lebih dari sepuluh bagaimana?” aku terdiam.
Aku usap kepala anakku agak keras. Aku senyum lebar selebar-lebarnya.
Dulu, aku begitu bahagia dapat sepatu baru. Sekarang, anakku begitu tersiksa dengan sepatu baru. Entahlah, mungkin cucuku nanti akan senang dengan sepatu baru, seterusnya dan seterusnya…
