Jantung aku berdegup cepat! Kurasa kalian pun begitulah agaknya. Jantung kalian pun berdegup cepat kali kan? Kan… kan… kan…. Kalian juga ingin tahu macam mana bentuk sepatuku kan?
“Aku harus hati-hati. Kalau tidak, bisa celaka tiga belas. Kalo sepatu pertama aku koyak-koyak macam mana?!” aku berbisik pada diriku sendiri.

Ah! Sepatu pertama! Aku tahu sekarang! Sepatu maradonaku ini adalah sepatu pertama aku. Ia bukan sepatu baru aku. Sebab kan kalian sudah tahu aku belum punya yang lama. Ah, kalian ngggak percaya juga? Analoginya macam ini, kalau kalian baru menikah apakah kalian akan menyebut istri kalian itu sebagai istri baru. Kalian kan belum punya yang lama.
Melantur! Melantur terlalu jauh itu kurang baik untuk kesehatan. Memang, kalau dalam urusan penceritaan khususnya cerita panjang keberadaan lanturan itu adalah keniscayaan. Ada baiknya kita kembali ke urusan sepatu tadi.
Perlahan-lahan sekali sepenuh kehati-hatian aku buka pengemas sepatu pertamaku, sepatu maradonaku. Dan… tara… sepatuku ternyata masih mulus tak ada kerut-cemarut sedikit pun. Sepatu pertamaku telah mendarat dengan mulus di rumah. Abang aku tersenyum meski menyiratkan rasa haru melihat tingkah polahku yang mengenaskan itu. Mengenaskan tentu, buat orang kota. Tapi biarlah aku menikmatinya pun.
Malam sebelumnya, sebelum tidur aku tatap sepatu pertamaku dengan sepenuh kebanggaan. Tak hendak rasanya kulepas ia. Sepatu Maradonaku tersayang yang akan membawaku mengalahkan Argentina. Aku dekap sepatuku dalam tidur dan ia membawaku ke alam mimpi.
Pagi telah tiba. Habis mandi, pakai baju, dan makan pagi kukenakan sepatu biru-putih itu. Nanti sehabis sekolah kan kami, aku dan sepatuku, ciptakan sepuluh gol, lalu esok seratus dan seribu gol.
Siang itu, aku coba main bola bersama sepatu Maradonaku. Baru beberapa langkah, kakiku terasa perih. Kakiku ternyata melepuh. Perih.
Apa daya sepatu Maradonaku terpaksa aku istirahatkan. Biarlah dia nyaman dulu di bawah pohon singkong itu.
Permainan berlanjut. Aku ciptakan dua atau tiga gol. Bahagianya tak terkira.
Tiba di rumah kakiku terasa perih. Pemain besar tidak boleh mengeluh. Pemain besar harus tahan apalagi ini hanya sebatas perih. Perih aku tahan dan aku berhasil. Aku pulang dengan senyum merekah. Tapi….
Sepatu Maradonaku yang membuat kakiku perih itu…. mana dia? Oh, Tuhan! Sepatu pertamaku tertingal di lapangan depan sekolahku. Aku bangkit dan segera berlari ke sana. Aku berlari bagai kilat. Aku tiba di sana dalam sekejap. Tapi tak ada orang! Tak jua sepatu maradonaku.
Aku terpana sejenak! Aku kehabisan kata-kata. Air mataku mendarat di kakiku tepatnya sedikit di bawah kuku kakiku. Perih! Terasa perih sebab kulitnya yang melepuh.
***
Hari itu, sesudah puluhan tahun berlalu, kamis, 01-06-2016, anakku aku bantu memakai sepatu baru. Aku katakan sepatu baru sebab ia sudah punya beberapa sepatu lama. Pantaslah kalau aku sebut ia memakai sepatu baru. Ia pakai yang baru karena sepatu lamanya basah karena kehujanan kemarin.
Perjalanan ini, berjalan menuju sekolah anakku, memang penuh cerita. Seperti yang sudah aku katakan di atas, aku membantu anakku memakai sepatu barunya.
“Pakai kaus kaki ya!” kataku.
“Nggak mau ah, Ayah! Nggak enak pakai kaus kaki,” ia menolak.
“Sepatu baru biasanya kulitnya masih keras. Nanti kakimu sakit,” aku membujuk.
