Tuan Asrul,
Surat ini saya tulis bukan untuk membalas Surat Kepercayaan Gelanggang atau mengulangi pekik para pemuda tahun lima puluhan yang merasa baru saja menemukan suara dirinya. Tidak, Tuan. Surat ini lebih seperti secangkir kopi yang diseduh perlahan di Adakopi Original—sebuah kafe sederhana yang menjadi tempat kami tak hanya ngopi, tetapi juga bertukar ide, berdebat, dan mendirikan Semaan Puisi, yang kelak melanjutkan warisan pemikiran dan jejak kebudayaan yang Tuan tinggalkan.


Saya menulis ini sambil mendengarkan denting kecil sendok yang beradu dengan cangkir, seperti tanda seru yang tercebur ke dalam gelas. Di luar, azan magrib sudah turun perlahan ke dada malam. Ah, Tuan Asrul, tiba-tiba saya teringat bait puisi dalam “Lagu daripada Pasukan Terakhir”, Ah mengapa pada hari-hari sekarang, // matahari sangsi akan rupanya, dan tiada pasti pada cahaya // yang akan dikirim ke bumi.
Kali ini, Tuan Asrul, saya membayangkan Tuan mungkin sedang duduk di beranda surga, ditemani Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Gus Dur, salah seorang cucu pendiri Nahdlatul Ulama, Hadrotusyekh Hasyim Asy’ari, tempat engkau dulu juga berkhidmat di dalamnya.
Mungkin Tuan berempat masih memperdebatkan siapa yang lebih dulu menulis kalimat yang kemudian mengubah arah angin sastra Indonesia. Atau, mungkin, Chairil sedang menertawakan keseriusan Tuan dengan gaya khasnya: “Asrul, jangan terlalu percaya pada kata-kata. Mereka licin, seperti ikan di tangan penyair lapar.”
Tapi Tuan tentu tahu, di bawah sini, kami—anak-anak yang lahir di zaman gawai dan jaringan nirkabel—masih berusaha memahami arti “merdeka” yang pernah Terjadi Tuan tulis. Sebuah surat yang, bagi kami, adalah kitab kecil tentang bagaimana menjadi manusia yang tidak hanya menulis puisi, tetapi juga menulis dirinya sendiri di dalam sejarah.
Di Adakopi Original, kami menyebutnya Semaan Puisi. Nama itu, Tuan, mengandung kebetulan yang disengaja. Kami mengambil tradisi semaan dari pesantren: membaca kitab, mendengarkan bacaan, menyimak, lalu menadaburinya bersama. Tapi kali ini, kitab kami adalah kumpulan puisi, makalah kebudayaan, atau obrolan tentang siapa yang lebih cocok disebut “penyair sesungguhnya”: yang lahir dari penderitaan, atau yang lahir dari algoritma.
Suatu malam, di antara aroma kopi tubruk dan asap rokok kretek, Zaky Mubarok—dosen dan penulis yang lebih suka dipanggil Angin Kamajaya—bertanya, “Apa bedanya gelanggang kalian dulu dengan semesta kopi kami sekarang?”
Pertanyaan itu jatuh ke meja seperti biji kopi yang gagal disangrai: kecil tapi menggelegar.
Saya lalu mencoba menjawab, meskipun saya tahu, jawaban apa pun mungkin terdengar konyol di telinga Tuan. “Mungkin bedanya cuma satu, Tuan,” kata saya dalam hati, “kalian menulis surat di masa merdeka, kami menulis puisi di masa kehilangan makna kemerdekaan.”
Tuan Asrul, saya tahu bahwa ketika Tuan bersama Gelanggang menulis Surat Kepercayaan Gelanggang, tidak sedang berusaha membentuk kelompok elite sastra. Tuan hanya mencari tempat berpijak di antara dua kutub: kebudayaan yang mewarisi tradisi kolonial, dan kebudayaan nasional yang sering kali tersesat dalam jargon politik kaku.
Saya masih ingat kalimat Tuan yang begitu jernih: “Dalam proses kreatif, seniman tidak hanya menciptakan karya, tetapi juga menemukan dan membentuk jati dirinya. Perjuangan untuk menghasilkan karya adalah perjuangan untuk menjadi manusia yang utuh.”
Namun, izinkan saya jujur: zaman kami ini aneh. Kami hidup di masa di mana kebudayaan bukan lagi ruang, tapi konten. Terkadang, kami membaca bukan untuk memahami, melainkan untuk mencari kutipan yang bisa dipajang di Instagram Story. Kalau dulu Tuan dan Chairil memperdebatkan peran kebudayaan nasional dalam menghadapi kolonialisme Barat, sekarang kami memperdebatkan algoritma yang bisa membuat puisi Rendra kalah viral dari video apa pun yang dianggap trending.
Tentu, perbandingan ini terdengar konyol, tapi begitulah kenyataan zaman kami: sebuah gelanggang baru yang tidak lagi butuh manifesto tebal, tapi cukup dengan tagar yang kuat.
Kami tidak menolak modernitas, Tuan. Kami hanya mencoba, seperti Tuan dulu, mencari jalan tengah. Maka di Adakopi itu, sebelum kami membaca puisi, kami selalu membaca Surat Yasin, bertahlil, dan bertawassul. Bukan karena kami hendak mengislamkan puisi, tetapi karena kami takut kehilangan ruh yang membuat kami bisa menulis dengan hati yang masih berdenyut.
Zaman ini membuat segalanya cepat, Tuan. Bahkan kesedihan pun bisa diunduh dalam bentuk status singkat. Tapi di antara kecepatan itu, kami mencari jeda. Kami membaca Asrul Sani dan sejumlah sastrawan yang gagasannya susah dirubuhkan—dengan cara yang sama kami menyeruput kopi: pelan, beraroma, dan kadang terlalu pahit untuk ditelan sekaligus.
Tuan Asrul,
Tuan dulu pernah berselisih paham dengan Sutan Takdir Alisjahbana (STA)—tokoh modernis yang percaya pada evolusi budaya. Tuan menuduhnya sebagai “manusia yang mengelap-ngelap kebudayaan,” sementara ia menuduh Tuan terlalu romantik terhadap masa lalu. Namun, di balik perdebatan itu, sesungguhnya kalian membicarakan hal yang sama—cinta pada kebudayaan Indonesia—hanya saja dengan logat yang berbeda.
Sekarang, bayangkan, Tuan. Kalau STA masih hidup hari ini, mungkin ia akan membuat kanal YouTube berjudul “Menjadi Modern bersama STA,” dengan tagline: “Budaya itu evolusi, bukan nostalgia.” Sementara Tuan, mungkin akan punya podcast berjudul “Lesbumi Talks: Di Antara Iman dan Imajinasi.”
Saya ragu, apakah dunia digital ini benar-benar tempat yang bisa menampung “jiwa merdeka” seperti yang Tuan-tuan perjuangkan? Sebab di sini, kebebasan sudah berubah bentuk: dari keberanian berkata benar menjadi keberanian menggaet follower.
Namun, izinkan saya kembali ke soal “debu kebudayaan.” Tuan menuduh STA mengelap-ngelap kebudayaan, seolah kebudayaan itu cermin yang harus selalu mengilap. Hari ini, kami justru hidup dalam kebudayaan yang terlalu bersih, terlalu mengilap, sampai kita tak lagi melihat wajah sendiri di dalamnya.
