Surat Semaan Puisi: Dari Gelanggang ke Adakopi*

Ketika Tuan kembali, Tuan tidak berkoar-koar tentang pencerahan. Tuan hanya bekerja—menulis, menyutradarai. Tapi sejak itu, ada aroma ziarah dalam setiap karya Tuan. Bahkan ketika Tuan menulis skenario film seperti Titian Serambut Dibelah Tujuh, saya merasakan sejenis ketenangan spiritual di balik narasi yang kelam. Seolah Tuan ingin berkata: dunia ini boleh ribut, tapi hati seniman harus tetap jernih.

Tuan Asrul,

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam sejarah kebudayaan kita, orang-orang seperti Tuan sering terlupakan. Orang mengingat Chairil karena puisinya yang meledak-ledak, mengingat Pramoedya karena perlawanan politiknya, tapi jarang yang mengingat Tuan sebagai penyambung dua dunia: dunia batin dan dunia sosial, dunia doa dan dunia layar lebar.

Namun, percayalah, di antara anak-anak muda di Adakopi Original, nama Tuan masih sering disebut. Kami membaca karya Tuan bukan sebagai nostalgia, tapi sebagai panduan moral: bagaimana tetap waras di tengah kegilaan zaman.

Ketika kami lelah menghadapi dunia yang serba tergesa, kami membaca karya Tuan. Ketika kami bingung harus memilih antara menjadi religius atau modern, kami mengingat jalan tengah Tuan.

Dan ketika kami ragu, apakah puisi masih penting di tengah suara mesin dan iklan digital, kami membaca kalimat Tuan: “Seniman tidak hanya menciptakan karya, tetapi juga menemukan dan membentuk jati dirinya.”

Kalimat itu, Tuan, adalah azan kecil bagi kami yang hidup di tengah kebisingan algoritma.

Saya sering berpikir, kalau Tuan hidup hari ini, mungkin tidak akan membuat Surat Kepercayaan Gelanggang. Mungkin akan membuat film pendek berjudul “Manifesto di Tengah Kopi”, atau “Sajak-sajak di Layar Gawai.”

Mungkin Tuan akan berkata, “Kebudayaan bukan soal bentuk, tapi soal arah niat.”

Kami, generasi yang lahir jauh setelah Tuan, hanya bisa berusaha mengikuti jejak itu—meski dengan langkah yang kadang terantuk di batu iklan dan status viral.

Tuan Asrul,

Izinkan saya menutup bagian ini dengan kisah kecil. Suatu malam, di Adakopi, listrik padam. Lampu mati, Wi-Fi putus, dan semua orang diam. Dalam gelap itu, Beni Satria, salah satu pendiri Semaan Puisi, tiba-tiba berkata pelan, “Mungkin beginilah rasanya jadi penyair zaman Asrul Sani. Tidak ada cahaya, tapi tetap menulis.”

Kami semua tertawa, lalu menyalakan lilin. Di bawah cahaya kecil itu, kami membaca puisi-puisi lama. Bukan untuk romantisme, tapi untuk belajar tenang.

Saya rasa, di sanalah kami paling dekat dengan Tuan—bukan ketika membaca karya Tuan, tapi ketika merasakan keheningan yang Tuan wariskan. Keheningan yang tidak menolak modernitas, tapi juga tidak tunduk padanya. Keheningan yang tahu kapan harus berbicara, dan kapan harus menyeruput kopi.

Kini biarlah surat ini saya akhiri dengan cerita yang sederhana, tapi penuh makna: tentang bagaimana pertemuan kecil di antara kopi, doa, dan puisi perlahan berubah jadi tradisi.

Pada mulanya, kami hanya sekelompok anak muda di Adakopi Original. Kami datang dengan niat sederhana: membaca, berbagi, dan menertawakan hidup. Tapi dari pertemuan kecil itu, tumbuhlah sesuatu yang jauh lebih hangat: Semaan Puisi.

Hari ini Tuan Asrul yang terkasih, Selasa, 28 Oktober 2025, bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda. Kami merayakan Haul Sastrawan dan Ulang Tahun Kedua Semaan Puisi—kali ini tidak lagi di Adakopi Original, tapi di Makara Art Center, Universitas Indonesia. Di sanalah kami, para penyair, santri, dan pencinta kopi, berkumpul untuk mengenangmu—bukan dengan air mata, tapi dengan tawa dan doa.

Acara ini dibuka oleh budayawan Ngatawi Al-Zastrouw, sosok yang melanjutkan langkah Anda, menghidupkan kembali denyut Lesbumi. Suatu waktu, beliau berkata, “Lesbumi itu seperti lilin yang tak pernah benar-benar padam, hanya kadang tertiup angin sejarah. Tugas kita bukan menciptakan lilin baru, tapi menjaga agar nyalanya tetap ada.”

Tuan Asrul,

Surat ini terlalu panjang, tapi biarlah saya akhiri dengan pengakuan sederhana: Kami menulis dan membaca bukan semata untuk dikenang, tapi agar kebudayaan tidak kehilangan arah. Kami ingin menjadi bagian dari nyala kecil itu—nyala yang Tuan wariskan.

Kami tahu, kebudayaan tidak bisa diselamatkan dengan pidato, tapi dengan kesetiaan. Dan barangkali, inilah bentuk kesetiaan kami: terus membaca puisi, terus menyalakan lilin, terus percaya bahwa antara kata dan doa ada hubungan rahasia yang membuat manusia tetap menjadi manusia.

Depok Terluar, 2025.

Tinggalkan Balasan