Surat Semaan Puisi: Dari Gelanggang ke Adakopi*

Debu yang dulu Tuan hindari, kini hilang sama sekali. Padahal, bukankah debu itu yang membuat sejarah terasa nyata? Kami di Adakopi percaya, sedikit debu adalah tanda kehidupan. Kami biarkan kata-kata berdebu, agar terasa nyata di lidah.

Malam itu, setelah kami membaca Surat Kepercayaan Gelanggang, Gilang—salah satu pendiri Semaan Puisi—bertanya dengan polos, “Apakah mungkin menulis puisi tanpa ideologi?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Saya teringat Tuan, yang memilih tidak menandatangani Manifes Kebudayaan maupun ikut ke Lekra. Tuan memilih jalan tengah: mendirikan Lesbumi.

Sikap Tuan itu, bagi kami, seperti secangkir kopi tanpa gula: pahit, tapi jujur. Tuan tidak menolak modernitas, tapi juga tidak larut di dalamnya. Tuan hanya memilih, sebagaimana Gus Dur kelak mengatakan, jalan kebudayaan yang berpihak pada kemanusiaan.

Di Adakopi Original, kami tidak menulis manifesto. Kami hanya menulis catatan kecil di buku tamu: “Puisi adalah doa yang tidak selesai dibaca.”

Kami tahu, itu terdengar klise. Tapi bukankah kebudayaan selalu lahir dari hal-hal yang diulang terus-menerus sampai jadi tradisi?

Maka setiap Kamis malam, kami membaca tahlil dan Yasin, lalu membuka buku puisi. Kami percaya, di antara ayat dan bait, ada ruang yang sama: ruang sunyi tempat manusia berbicara dengan dirinya sendiri. Dan bukankah itu pula, Tuan, inti dari kebudayaan?

Tuan Asrul yang selalu saya hormati,

Izinkan saya menulis dengan sedikit keberanian tentang pertikaian antara ideologi dan iman, antara sastra yang memihak rakyat dan sastra yang memihak langit.

Saya tahu, Tuan tidak pernah menyukai dikotomi semacam itu. Bahkan di saat para kawan di Gelanggang terpecah—sebagian ke Manikebu, sebagian menyeberang ke Lekra—Tuan memilih berdiri di tengah, seperti orang yang tidak mau ikut rebutan panggung tapi justru menulis skenario tentang para pemainnya.

Saya membaca kembali pidato-pidato Tuan setelah 1963. Nada suaranya tenang, tetapi di balik ketenangan itu saya mendengar gelombang besar: semacam kekecewaan yang dibungkus doa.

Betapa lelahnya menjadi penyair yang ingin jadi manusia utuh di tengah negara yang sedang belajar menjadi negara—di tengah ideologi yang saling meniadakan.

Tuan,

Bagi saya, Manikebu adalah sejenis jeritan spiritual: jeritan orang yang tidak ingin puisi dijadikan alat, tapi juga tidak ingin puisi menjauh dari manusia. Tuan memilih jalan Lesbumi bukan karena menolak semangat Manikebu, melainkan karena tahu: seni yang berpihak pada kemanusiaan tidak perlu dibungkus dalam pernyataan politik.

Mengutip makalah Jamal D. Rahman, “Lesbumi, sebagaimana engkau dirikan, Tuan, bukan sekadar lembaga, melainkan ikhtiar moral untuk menyelamatkan seni dari kerak ideologi. Jamal D. Rahman menyebutnya jalan wasatiah; jalan tengah yang tidak netral, tetapi penuh makna —jalan yang mencari keseimbangan antara warisan dan penciptaan, antara iman dan kebebasan, antara transedensi dan sejarah. Ia tidak memilih Barat atau Timur, tidak tunduk pada politik sebagai panglima, dan tidak larut dalam sekularisme yang memisahkan iman dari ekspresi budaya. Sejak awal, Asrul Sani menapaki jalan wasatiah: sebuah jalan tengah yang bukan kompromi, melainkan sintesis batin antara warisan dunia, kebebasan manusia, dan nilai-nilai spiritual Islam.”

Sebuah ‘wadah kebudayaan religius yang berusaha mengembalikan seni kepada spiritualitas kemanusiaan.’ Kini kami, di Semaan Puisi, hanya mencoba menggemakan kembali napas itu.”

Lesbumi adalah anomali sejarah yang indah: di saat kebudayaan direbut antara kiri dan kanan, antara realisme sosial dan eksistensialisme, Tuan datang membawa sajadah dan naskah skenario. Tuan  menunjukkan bahwa agama tidak menghalangi kreativitas, justru menjadi sumur di mana imajinasi bisa disiram setiap kali kering.

Tuan percaya, kebudayaan membutuhkan naungan spiritualitas agar tidak kering kerontang oleh ideologi. Keyakinan semacam itu, bagi saya, jauh lebih revolusioner daripada semua manifesto yang pernah ada. Sebab, sikap Tuan yang memilih mengalir di antara dua kutub bukan lahir dari rasa takut pada ideologi, melainkan dari kesadaran bahwa kebudayaan tidak dapat diselamatkan hanya dengan ideologi; ia hanya bisa dipeluk dan dijaga dengan cinta. Cinta kultural itulah yang mendorong Tuan mendirikan Lesbumi, dan kemudian, memutuskan untuk berangkat haji, sebuah ziarah yang disaksikan kawan sezaman sebagai pencarian kemurnian diri dan yang membuat Tuan kembali dengan wajah yang “lebih teduh.” Kisah Tuan ke Tanah Suci adalah bab yang indah dalam biografi seorang sastrawan. Mereka menulis: “Asrul Sani naik haji, dan pulang dengan wajah yang lebih teduh.”

Teduh, Tuan. Bukan berubah, bukan menyesal, tapi teduh.

Mungkin di antara thawaf dan sa’i itu, Tuan  menemukan jawaban yang tak sempat terjawab di Gelanggang: bahwa manusia yang utuh bukanlah yang berani melawan, tapi yang berani memaafkan.

Saya membayangkan adegan Tuan di depan Kakbah. Tidak ada lagi “seniman merdeka,” “pejuang Lekra,” atau “penandatangan Manikebu.” Semua hanyalah hamba. Dan mungkin, di saat itulah Tuan tersenyum dan berkata pelan, “Seni yang sejati adalah ibadah yang terselubung.”

Pernyataan itu, bagi saya, adalah manifes paling sunyi yang pernah lahir di sejarah sastra Indonesia.

Tinggalkan Balasan