Korupsi Sang Kiai

Gaung zikir dan munajat dari masjid seperti suara gemuruh yang datang dari kejauhan. Tak sedikit di antara santri yang menunduk, terpekur khusyuk berdoa. Mereka sedang mendoakan panutan mereka, kiai mereka, junjungan mereka yang terhormat dan dimuliakan. Ketika segala usaha tak mudah ditembus lagi, maka doalah yang dijadikan senjata pamungkas.

Kiai mereka, Kiai Balhum, saat itu tiba-tiba dijemput rombongan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan langsung ditangkap tanpa perlawanan apa pun. Sesaat sebelum masuk ke mobil tahanan, kiai meminta dipertemukan dengan seluruh santrinya. Sebagian santri meneteskan air mata ketika sang kiai seolah pamit entah sampai kapan akan kembali.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Kalian tidak perlu risau, semua akan baik pada akhirnya. Yang batil akan tetap ditunjukkan oleh Allah. Berdoalah!”

Semua santri mengangguk, seperti dipandu oleh kata-kata junjungan mereka. Kiai Balhum mantap melangkahkan kaki menuju mobil tahanan yang akan mengantarkannya pada suatu siklus terbaru dalam hidupnya.

Dengan tangan diborgol dan penjagaan ketat petugas KPK, Kiai Balhum yang selama ini dikenal mempunyai kharisma besar itu, memilih diam saja sepanjang perjalanan. Dan di sepanjang perjalanan itu, berjalan pulalah pikirannya merambahi episode-episode paling menantang dalam hidupnya. Yang kemudian mengantarkannya pada titik kulminasi dengan label koruptor.

***

Entah sejak kapan dirinya tak ingat benar. Begitu saja alur hidup menyuguhkan kenyamanan dan tantangan berpolitik kotor. Semula, keterlibatannya ke dunia politik karena niat mulia ingin meluruskan jalur-jalur bengkok politik yang dilakukan oleh oknum-oknum pejabat. Karena maksud itu, dia memasuki gerbang politik sepenuh kesadarannya. Harus terjun sendiri sebagai politisi jika dirinya ingin meluruskan jalan yang bengkok. Tak cukup hanya menjadi kritikus, berkomentar di media, berdakwah di tengah khalayak, dan menghujat oknum tak jelas.

Kemudian dirinya berporos dalam arus dahsyat politik. Politik yang sebenarnya. Pelan tapi pasti, dirinya tidak hanya mengabaikan keberadaan santri dan masyarakat yang selama ini berbangga pada dirinya. Tetapi juga meninggalkan niat agungnya yang menjadi tapak awal dirinya melangkah di jalur politik.

Sang kiai pun mulai mengurus proyek-proyek besar yang keuntungannya mengalirkan kemudahan materi pada pundi-pundi pribadinya, hingga melakukan transaksi besar jual beli suara pada setiap momentum pemilihan. Dan entah bagaimana, keberadaan dirinya sebagai mucikari dalam pelacuran politik diketahui beberapa orang yang memerlukan jasa dan tangan dinginnya.

Satu per satu orang yang ditanganinya menduduki posisi-posisi strategis dalam pemerintahan. Dirinya menjelma menjadi seseorang yang piawai bernegosiasi, tak hanya harga jual beli kursi, tapi juga selalu gol dalam melego upeti yang harus dibayarkan pada dirinya jika upaya yang dibidaninya berhasil nantinya.

Rasanya tanpa menjadi kepala daerah atau pejabat apapun sudah cukup pundi-pundi itu dia terima secara rutin. Tapi kedudukannya sebagai kepala daerah adalah kereta kencana ajaib yang melajukan dirinya pada kemungkinan kejayaan tinggi.

Kiai Balhum bukan tak menerima teguran istri tentang santri yang lama tak dijenguknya. Tapi dengan ringan Kiai Balhum memberikan jawaban tak terbantah.

“Yang kulakukan ini lebih besar dari sekadar mengurus santri. Aku mengurus umat yang lebih banyak, tugasku lebih berat lagi. Ini amanah rakyat.”

Sang istri memandang putra mereka meminta dukungan. Justru, sang putra mendukung sang ayah. “Yang dikatakan Abah benar, Umi. Biarlah Abah melakukan hal yang lebih besar bagi umat.”

Hanya sekali itu saja istrinya mengingatkannya. Ketika istrinya tahu bahwa dirinya mulai terseret arus politik kotor, sang istri hanya menarik diri saja. Tanpa teguran dan komentar apa pun lagi.

One Reply to “Korupsi Sang Kiai”

Tinggalkan Balasan