Korupsi Sang Kiai

Kiai Balhum yakin, selama ini, siapapun yang ditangkap dan ditahan KPK tak begitu penting bagi masyarakat luas. Tapi yang KPK bekuk kali ini adalah orang yang mereka kenal dekat, yang dapat mereka sentuh dan cium tangannya dengan khidmat, yang mereka elu-elukan jika akan segera tiba, tetapi sekaligus yang mereka kutuk diam-diam dalam setiap munajat mereka pada Tuhan.

Kiai Balhum tidak tahu dirinya ingin menangis atau tertawa dengan suatu fakta di antara semua fakta hidupnya saat ini. Di suatu tempat agung yang jauh dari pandangan dan jangkauan dirinya, sekumpulan kiai teman sejawatnya melakukan suatu istighosah akbar untuk mendoakan keselamatannya. Mereka ingin dirinya selamat dari jeratan hukum. Hukum manusia di dunia.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Selama ini, Kiai Balhum begitu jarang mendapati para kiai itu mendoakan para aparat hukum dan keadilan negara agar senantiasa selamat dan berhasil dalam tugasnya menangkap penjahat negara yang berbusana pejabat. Mereka hampir tak pernah mendoakan agar setiap upaya KPK selalu berhasil. Agar orang-orang KPK selamat dari fitnah dan intimidasi pemerintah. Agar KPK selamat dari niat tebang pilih dalam menangkap pelaku kejahatan atas harta negara.

Beberapa tahun lalu, bahkan, di rumah seorang pejabat negara, dilaksanakan pengajian setiap malam untuk mendoakan sang pemilik rumah yang telah ditahan KPK dengan tuduhan pencucian uang dan penerimaan gratifikasi. Doa itu mengalun seperti orkestra yang indah. Semata bagi seorang koruptor.

Dan kini, dirinya, didoakan sekuat tenaga oleh ratusan hingga ribuan orang, agar selamat dari jerat hukum. Dan di antara orang-orang yang mendoakan dirinya, tak sedikit yang pernah ia zalimi, harta maupun moralnya.

Adakah Tuhan akan mengabaikan doa-doa keluarga besarnya, masyarakat luas dan para tokoh agama yang bersimpati atas penangkapan dirinya itu? Atau Tuhan akan menggubris doa-doa bagi manusia iblis seperti dirinya?

Pada suatu zaman, para iblis berdoa kepada Tuhan agar diberi kesempatan mengganggu manusia hingga hari kiamat tiba. Dan di zaman ini, para koruptor seperti dirinya berdoa agar diberi keselamatan dalam kejahatan mereka yang mungkin tidak akan terhenti sebelum ajal menjemput.

***

Istrinya mengunjunginya. Diantar seorang santri yang merangkap sopir.

“Saya tidak tahu bagaimana doa yang tepat untukmu,” ujar istrinya lirih.

Kiai Balhum memegang tangan istrinya. “Doakanlah keselamatanku.”

“Selama ini saya berdoa semoga ada yang mengehentikanmu meski bukan saya.”

Betapa terkejut Kiai Balhum mendengar pengakuan istrinya. Apakah tertangkapnya dirinya saat ini bagian dari doa seorang istri yang terkabul?

Tiba-tiba Kiai Balhum merasakan nyeri di dadanya.

Tanah Garam, 2026.

One Reply to “Korupsi Sang Kiai”

Tinggalkan Balasan