ARUS BALIK, WAKTU BERAKHIR

CATATAN KECIL DI SEBUAH STASIUN, BEBERAPA HARI SETELAH TAKBIR

Stasiun ini masih menyimpan sisa-sisa keringat dan rindu yang tercecer.
Seseorang duduk sendirian di peron, menatap rel yang tak kunjung bertemu.
Ia teringat bagaimana tangan ayahnya yang gemetar
melepasnya pergi dengan sebuah doa yang tak selesai diucapkan.
“Hati-hati di jalan,” hanya itu
tapi beratnya seperti memikul seluruh sejarah manusia.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Lebaran telah menjadi masa lalu
yang bergerak menjauh
seperti lampu belakang kereta yang ditelan kegelapan malam.
Kini yang tersisa hanyalah bayang-bayang di dinding kamar kos
dan percakapan pendek di telepon yang selalu diakhiri dengan helaan napas.
Kita menang, kata orang-orang
tapi mengapa menang terasa begitu sepi.

SEPASANG SANDAL DI DEPAN MASJID YANG SEPI

Masjid itu kini sepi kembali, hanya angin yang sesekali masuk
menyapu debu di atas sajadah yang masih menyimpan aroma keningmu.
Sandal-sandal yang kemarin berdesakan
kini telah pergi
membawa pemiliknya kembali
ke medan perang masing-masing
Ada yang ke pasar
ada yang ke kantor
ada yang ke pelabuhan.

Tuhan, barangkali
sedang tersenyum menatap
ruangan yang kosong itu.
Sebab Ia tahu
kemenangan sejati bukanlah saat masjid penuh sesak
melainkan saat kejujuran tetap terjaga di balik meja birokrasi
dan kasih sayang tetap mengalir di antara kerumunan yang tak saling kenal.

Kita adalah doa-doa yang sedang berjalan di trotoar kota
berusaha tetap suci di antara debu dan hiruk-pikuk dunia.

TAK ADA YANG BENAR-BENAR BERAKHIR, KECUALI WAKTU

Tak ada yang benar-benar berakhir setelah Lebaran usai.
Maaf itu seperti akar yang harus terus menjalar di bawah tanah
meski batang pohonnya sering kali diguncang badai dan panas yang terik.
Kita hanya sedang berganti pakaian
dari kain putih yang lembut
kembali ke baju zirah yang penuh dengan bekas luka lama.

Biarlah sisa-sisa perayaan ini mengendap di dasar ingatan

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan