DI ANTARA BARA DAN MASA KECIL YANG TERTUNDA
Di pagi yang belum benar-benar terang,
Ia sudah akrab dengan hitam arang.
Tangan kecilna tak memegang mainan
Melainkan serpihan kayu dan harapan
Asap mengepul, mengaburkan langit,
Namun matanya bening den sempit
Menyimpan mimpi yang belum sempat tumbuh,
Karena hidup lebih dulu mengetuk pintu.
Tiap kali menyodorkan beberapa lembar rupiah
ia tak pernah melepas senyum ikhlas dan tatapan ramah
ia tersipu saat kamera mengarah pada wajahnya
tak mengapa, dunia akan baik-baik saja
ia tak mengeluh, hanya dia membantu,
di antara bara yang perlahan membeku,
di balik wajah yang legam tertutup debu,
tersimpan masa kecil yang tertunda waktu.

KAKAK YANG MENGALAHKAN MIMPI
Ia pernah punya mimpi setinggi langit,
tentang sekolah, tentang dunia yang menarik.
Namun dapur memanggil dengan suara pelan,
lebih nyata dari masa depan yang samar
ia lipat mimpinya dalam diam,
disimpan rapi tanpa banyak dendam.
Karena ia tahu, ada perut yang harus diisi
Dan hidup tak selalu menunggu ambisi.
Api di dapur terus ia jaga,
Meski dalam dadanya ada bara yang sama.
Bukan ia tak ingin terbang jauh,
Hanya saja rumah membuatnya tetap berteduh.
Saat ia membaca ulang kalimat ingin yang tertata pada buku usang
Ia kembali mengusap dada, ia kembali menitikan air mata
Namun, kala ia menyapu ruangan
Ada tiga sosok yang harus ia rangkul
Bukan tak ingin sama, namun ia memilih mengidupkan cinta
IBU YANG TAK PERNAH LELAH BERDOA
Di setiap sujudnya yang panjang dan sunyi,
ia titipkan nama-nama yang ia cintai.
Tak banyak kata, tak banyak pinta,
hanya harap yang tak pernah sirna.
Tangannya kasar, lelah tak terhitung,
