Beriman di Kolom Komentar

Di era digital, iman sering kali menjadi “barang publik” yang paling mudah diukur dari jumlah like, share, komentar, dan caption religious di media sosial. Di balik layer ponsel, kolom komentar menjadi ruang publik baru tempat manusia menampilkan diri sebagai “orang beriman”: menyebarkan kutipan ayat, memuji Allah, memprotes kezaliman, atau—dalam beberapa kasus yang cukup kreatif—menghujat lawan dengan balutan jorgon ketuhanan. Di titik ini, muncul fenomena unik: jari leih cepat dari hati, dan emosi lebih viral daripada refleksi.

Terkadang, kolom komentar terasa seperti majelis taklim dadakan—bedanya, tanpa moderator dan tanpa jeda unntuk tarik napas. Seseorang bisa menulis “Masyaallah” di satu komentar, lalu lima detik kemudian membalas komentar lain dengan tulisan yang… kurang Masyaallah. Di sinilah pertanyaan sering muncul: apakah iman sering otentik ketika ia menjadi spektakel digital? Atau jangan-jangan kita sedang menyaksikan “iman instan” —cepat saji, siap kirim, dan kadang kurang matang?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Iman, Filsafat, Islam

Dalam Islam, iman bukan sekadar kepercayaan teoretis, tetapi tiga lapisan: keyakinan di hati, ucapan lisan, dan amal perbuatan. Ulama salaf seperti Imam Malik, Imam Syafi‘i, dan Imam Ahmad menegaskan bahwa iman bisa bertambah dan berkurang, sebagaimana amal dan sikap hati manusia. Jika mengikuti kerangka ini, maka “beriman di kolom komentar” hanya sah secara spiritual bila ia merupakan perpanjangan dari hati yang jujur dan perilaku yang konsisten.

Masalahnya, kolom komentar sering menjadi ruang di mana ucapan melesat jauh meninggalkan hati dan amal. Orang bisa tampak sangat religius secara verbal, tetapi kehidupan nyatanya tidak mengalami transformasi apa pun. Ini seperti seseorang yang rajin menulis “sabar ya, ini ujian” kepada orang lain, tetapi ketika Wi-Fi lemot lima detik saja, kesabarannya langsung logout.

Para filsuf Islam seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Ghazali menegaskan bahwa iman tidak bertentangan dengan akal. Justru akal menjadi instrumen penting untuk memahami wahyu. Al-Ghazali, khususnya, menekankan pentingnya perjalanan spiritual (mi‘raj al-sālik), yang menuntut refleksi mendalam, muhasabah, dan disiplin batin. Dalam konteks ini, iman tidak mungkin direduksi menjadi sekadar respons cepat di kolom komentar.

Kalau Al-Ghazali hidup di era media sosial, mungkin beliau akan menyarankan: sebelum mengetik, lakukan “login ke hati” dulu, bukan hanya login ke akun.

Kierkegaard dan Iman di Era Digital

Søren Kierkegaard, filsuf Kristen dari Denmark, menawarkan kritik yang terasa sangat relevan untuk zaman sekarang. Ia menolak gagasan bahwa iman bisa direduksi menjadi fenomena kolektif yang dangkal. Bagi Kierkegaard, iman adalah komitmen personal yang radikal, penuh pergulatan, dan sering kali sunyi.

Ia mengkritik “kerumunan” (the crowd) sebagai entitas yang cenderung menghapus tanggung jawab individu. Dalam dunia digital, “kerumunan” ini bisa berupa trending topic, viral post, atau gelombang komentar yang seragam. Orang ikut berkomentar bukan karena refleksi pribadi, tetapi karena dorongan untuk tidak ketinggalan.

Fenomena ini melahirkan apa yang bisa disebut sebagai “iman konformis”: iman yang mengikuti arus, bukan hasil pergulatan batin. Dalam praktiknya, ini terlihat ketika seseorang menyalin-tempel kutipan religius tanpa memahami konteksnya, atau ikut mengecam tanpa memeriksa kebenaran informasi.

Tinggalkan Balasan