Empat abad silam, lahir seorang ulama besar dari tanah Gowa, Sulawesi Selatan, yang kelak tidak hanya dikenal sebagai tokoh agama, penyebar ilmu, tapi juga pejuang anti-kolonial, dan tokoh spiritual berpengaruh di dunia Islam: Syekh Yusuf Al-Makassari.
Menempuh perjalanan intelektual ke berbagai pusat keilmuan di Timur Tengah, Syekh Yusuf kemudian tiba di Banten pada abad ke-17 dan menjadi sahabat dekat sekaligus penasihat spiritual Sultan Ageng Tirtayasa. Dari tanah Banten, ia ikut meneguhkan perlawanan terhadap VOC, hingga akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Sri Lanka lalu Afrika Selatan.

Namun pengasingan tak pernah mampu mengasingkan pengaruh pemikirannya. Hingga kini, namanya dikenang sebagai ulama Nusantara yang jejaknya melintasi samudra dan zaman. Dalam rangka mengenang warisan besar itulah, Kementerian Kebudayaan bekerja sama dengan Kementerian Agama, BQMI TMII, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Arsip Naaional Republik Indonesia, dan Pemerintah Provinsi Banten menggelar Peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari di kawasan bersejarah Banten Lama, Serang, Selasa (28/4/2026).
Acara akan berlangsung sejak sore hari, mulai pukul 15.30 hingga 22.00 WIB, menghadirkan rangkaian kegiatan berupa diskusi kebudayaan, khatmul Quran bil kitaba yang melibatkan ratusan santri, pameran manuskrip, hingga pertunjukan seni budaya. Seluruh rangkaian acara dipusatkan di Museum Situs Kepurbakalaan Banten serta Halaman Masjid Agung Banten.
Pada sesi diskusi bertajuk “Syekh Yusuf Al-Makassari: Dulu, Kini, dan Nanti”, sejumlah narasumber akan membahas relevansi pemikiran Syekh Yusuf dalam lintasan sejarah dan konteks masa kini. Hadir sebagai pembicara antara lain Prof. Oman Fathurrahman, Muzdalifah Sahib, PhD, serta Upi Asmaradhana. Diskusi ini diharapkan membuka ruang pembacaan baru atas kontribusi Syekh Yusuf dalam tradisi keislaman, perjuangan antikolonial, serta pendidikan moral masyarakat modern.
Secara paralel, kegiatan Khatmul Quran bil Kitaba akan melibatkan 500 santri se-Provinsi Banten dalam penulisan mushaf Al-Quran Istiqlal. Kegiatan ini menjadi simbol kesinambungan tradisi keilmuan Islam, sekaligus penghormatan terhadap warisan spiritual yang diwariskan para ulama Nusantara.
Dalam acara penting dan bersejarah ini, Menteri Kebudayaan, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc. dijadwalkan meninjau sekaligus meresmikan Pameran Manuskrip Syekh Yusuf Al-Makassari. Pameran ini menampilkan jejak dokumenter dan manuskrip penting yang berkaitan dengan perjalanan intelektual Syekh Yusuf, yang dikenal memiliki pengaruh besar di Indonesia, Sri Lanka, hingga Afrika Selatan.
