Pesantren dan Jihad Ekologi di Tengah Krisis Iklim

Tercatat sebanyak 3.116 kejadian bencana sepanjang tahun 2025. Banjir di Aceh dan Sumatra Barat, 25 titik longsor di 11 desa di Majalengka, Jawa Barat, banjir di kawasan perkotaan, kebakaran hutan, serta berbagai bencana alam lainnya menjadi potret nyata krisis lingkungan di negeri kita.

Betapa pun bencana-bencana tersebut dipicu oleh curah hujan yang tinggi selama berhari-hari, kerusakan alam dan kegagalan pengelolaan lingkungan merupakan penyebab mendasar yang mengantarkan pada bencana.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kerusakan hutan akibat alih fungsi lahan dan penebangan liar memperparah risiko banjir serta tanah longsor. Pengikisan pantai mengancam permukiman di wilayah pesisir. Penurunan keanekaragaman hayati terjadi akibat eksploitasi lahan yang menjadi habitat berbagai makhluk hidup. Semua ini menjadi bukti bahwa bencana tidak bisa dipandang semata-mata sebagai peristiwa alamiah. Di baliknya, terdapat ulah tangan manusia yang rakus mengeksploitasi alam.

Al-Qur’an sendiri telah menyebut bahwa kerusakan bumi disebabkan oleh ulah tangan manusia.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ۝٤١

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum [30]: 41)

Tinggalkan Balasan