Kiai Anies dan Warisannya yang Abadi

Kiai Muhammad Anies Al Affad, atau kerap dipanggil Kiai Anies, seorang ulama terkemuka di daerah Ngawi, Jawa Timur. Warisannya, yang dikhidmahkan untuk umat, abadi.

Kiai Anies lahir di Dusun Katerban, Desa Sekaralas, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, pada 30 Agustus 1961. Kiai Anies merupakan adik kandung dari Kiai Muhammad Rofi’I Marzuki, yang pernah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Syarifatul ‘Ulum Katerban (1984-2014). Istri Kiai Anies, Siti Zubaidah, merupakan sosok perempuan aktif dalam kegiatan mengajar dibidang keagamaan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/
Kiai Anies al Affad ketika mengisi acara pengajian.

Saat masih bayi, Kiai Anies ditinggal wafat ibunya. Selanjutnya, masa kecil Kiai Anies diasuh oleh budenya yang sudah terbiasa setelah salat subuh langsung pergi berkebun untuk memanen sayur kangkung.

Menyelami Samudra Ilmu

Perjalanan Kiai Anies dalam menuntut ilmu agama cukup lama. Kurang lebih selama 25 tahun. Pondok tempatnya mengaji juga cukup banyak, di antaranya Pondok Pesantren (PP) APSN Lirap Kebumen, PP Darussalam Sumber Sari Kediri, dan masih banyak lagi. Selama menempuh pendidikan di berbagai pesantren tersebut, Kiai Anies menjalaninya dengan penuh ketekunan dan kedisiplinan.

Ketekunan Kiai Anies ketika menuntut ilmu, dapat dilihat dari caranya memilih tempat belajar. Misalnya, semua gurunya mempunyai kapasitas di atas standar manusia, baik dilihat dari amaliyah maupun keilmuannya.

Misalnya, Kiai Anies pernah sekolah di Sekolah Dasar Islamiyah Kota Madiun. Di saat bersamaan, juga sudah berada di pondok pesantren.

Pondok pertamanya di Kebon Sari, Desa Ngujur, Kabupaten Madiun, yang pada saat itu masih diasuh oleh KH Ali Rahmat dan Kiai Ramadhan.

Selanjutnya, Kiai Anies menempuh Sekolah Menengah Pertama sekaligus Sekolah Diniyyah di daerah Plosoklaten, Kabupaten Kediri. Selama kurang kebih empat sampai lima tahun Kiai Anies belajar di pesantren yang diasuh Mbah Kiai Muhsin, Mbah Kiai Syamsudin, dan Kiai Dimyati.

Setelah menimba keilmuan di berbagai pondok pesantren tersebut, Kiai Anies sempat berhenti selama kurang lebih satu tahun. Kemudian meneruskan lagi ke Pondok Kencong, Kabupaten Kediri, selama satu tahun. Di sana, Kiai Anies sudah mumtaz (tamat), kemudian melanjutkan lahi di Pondok Pesantren Sumbersari, Kediri, selama satu tahun.

Setelah itu, Kiai Anies melanjutkan lagi mencari ilmu di Desa Sumber Pancur, Kabupaten Kediri, selama sebulan untuk tabarukan (mencari keberkahan). Pada waktu itu, pesantren di sana diasuh menantu Kiai Hilal (guru spiritual Kiai Anies).

Tinggalkan Balasan