Tercatat sebanyak 3.116 kejadian bencana sepanjang tahun 2025. Banjir di Aceh dan Sumatra Barat, 25 titik longsor di 11 desa di Majalengka, Jawa Barat, banjir di kawasan perkotaan, kebakaran hutan, serta berbagai bencana alam lainnya menjadi potret nyata krisis lingkungan di negeri kita.
Betapa pun bencana-bencana tersebut dipicu oleh curah hujan yang tinggi selama berhari-hari, kerusakan alam dan kegagalan pengelolaan lingkungan merupakan penyebab mendasar yang mengantarkan pada bencana.

Kerusakan hutan akibat alih fungsi lahan dan penebangan liar memperparah risiko banjir serta tanah longsor. Pengikisan pantai mengancam permukiman di wilayah pesisir. Penurunan keanekaragaman hayati terjadi akibat eksploitasi lahan yang menjadi habitat berbagai makhluk hidup. Semua ini menjadi bukti bahwa bencana tidak bisa dipandang semata-mata sebagai peristiwa alamiah. Di baliknya, terdapat ulah tangan manusia yang rakus mengeksploitasi alam.
Al-Qur’an sendiri telah menyebut bahwa kerusakan bumi disebabkan oleh ulah tangan manusia.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ٤١
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum [30]: 41)
Manusia sebagai khalifah di Bumi, sebagaimana disebutkan Allah dalam Al-Qur’an, memiliki tugas utama untuk menjaga dan merawat bumi dari kerusakan.
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah[2]: 30)
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
Artinya: “Carilah (pahala) negeri akhirat pada apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qaṣaṣ [28]: 77)
