Salad vs Salat

Salim baru tiba di pondok sore tadi. Sudah menjadi peraturan kalau kembali ke pondok harus bawa oleh-oleh. Untuk itulah Salim membawa sekantung besar oleh-oleh. Sebagai orang kota, Salim membawa makanan khas orang kota, seperti pesanan teman-temannya.

“Makanan apa ini namanya, Lim?” Gafar bertanya dengan semangat dan mata menyala-nyala. Makanan di depannya itu begitu menggugah seleranya. Kelenjar salifanya juga merespons cepat, air liurnya keluar memenuhi rongga mulut membuat jakunnya naik turun.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Salad. Tunggu yang lain dulu kalau mau makan ya,” pinta Salim.

“Iya. Lagian aku sedang puasa Asyuro,” ucapnya sembari melangkah ke masjid untuk salat ashar.

Menjelang magrib teman kamarnya berdatangan. Mereka baru pulang dari sekolah yang masuk sore.

“Makanan apa ini?” desis Sobri.

“Ini namanya Salad,” jawab temannya.

Tanpa ba-bi-bu, mereka kemudian membuka bungkus plastiknya. Tak berapa lama kemudian makanan itu tinggal tersisa bungkusnya saja. Gafar yang sedang puasa merasa kecewa karena tidak mendapat bagian.

“Teman-teman ada yang mau salat?” tanya Jarot tiba-tiba. Pengurus pondok itu berdiri di tengah pintu kamar.

“Wah, barusan,” sahut Sobri.

Tinggalkan Balasan