Saya terpaku. Saya terhenyak. Saya terharu.
Di satu sudut di Pameran 60 Tahun Majalah Horison di PDS H.B. Jassin (23 April–24 Mei 2026), saya melihat foto itu dengan penuh perasaan yang saya coba tahan. Duduk di kursi, berderet dari kanan ke kiri: Taufiq Ismail, Ati Ismail, H.B. Jassin, Mochtar Lubis, dan Sutardji Calzoum Bachri. Berdiri di belakang mereka, berderet dari kanan ke kiri: Ikranagara, Azwan Hamir, Hamsad Rangkuti, Fadli Zon, dan saya sendiri. Di belakang kami semua, terpampang logo Horison dan Kakilangit. Saya ingat: itu foto tahun 1996. Ya Allah, betapa cepat waktu berlalu.


Yang membuat saya semakin terpaku adalah kenyataan bahwa sebagian dari mereka telah mendahului kita, satu demi satu. Kini yang tinggal adalah Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Ati Ismail, Fadli Zon (kini Menteri Kebudayaan RI), dan saya sendiri. Saya berusaha tidak romantik. Meski telah mendahului kita, tidak, mereka tidak tenggelam. Alih-alih, merekalah di antara yang tak tepermanai. Saya masih merasakan hangat tangan mereka di setiap huruf majalah Horison.
Namun, sekali lagi, saya berusaha untuk tidak larut dalam romantisme. Pameran ini —yang bertajuk “Yang Terbit, Yang Tenggelam”— tidak hanya mengundang kita untuk bernostalgia. Ia mengundang kita untuk bertanya dengan lebih jujur: apa yang terjadi pada majalah-majalah sastra yang tidak pernah tercatat? Lalu, apa bedanya antara yang terbit dan yang tenggelam, jika sama-sama bisa lenyap dari ingatan?
Saya juga terharu melihat seluruh pameran ini, karena saya bukan lagi pemimpin redaksi Horison —jabatan itu sudah saya letakkan. Saya sama sekali tak ambil bagian dalam menyiapkan pameran ini, kecuali —atas permintaan panitia— sebatas menyampaikan pidato kunci di pembukaan pameran. Bagi saya sebagai mantan pemimpin redaksi, seluruh publikasi Horison telah menjadi sejarah, dan sejarah adalah milik publik. Maka, publik boleh memperlakukan seluruh publikasi Horison dengan cara mereka sendiri, seperti Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin yang menyelenggarakan pameran ini.
Fokus pada satu pameran bukan berarti menafikan hadirnya majalah-majalah sastra lain di luar diri kita. Justru sebaliknya. Pameran “Yang Terbit, Yang Tenggelam” ini, bagi saya, adalah sebuah pengakuan terbuka bahwa di balik setiap narasi besar yang terbit, ada banyak kapal yang tenggelam —dan bahwa kapal itu layak untuk ditengok, layak untuk diratapi, dan mungkin, layak untuk diselamatkan —setidaknya sebagian.
Sampai di sini saya merasakan sesuatu yang aneh: ingatan saya justru melayang ke buletin Jejak. Buletin Jejak? —Ya, buletin itulah yang tiba-tiba melintas.
Mercusuar dan Jejak yang Terhapus
Sastra Indonesia bukan hanya sejarah tentang yang berhasil menjadi monumen, tetapi juga tentang jejak-jejak kecil yang nyaris hilang namun diam-diam membentuk arah perjalanan kebudayaan kita. Jangan-jangan sebagian besar sejarah sastra Indonesia sebenarnya dibangun oleh mereka yang tidak pernah masuk ke dalam sejarah resmi.
Secara historis, majalah sastra merupakan media penting perkembangan sastra Indonesia modern. Dari Poedjangga Baroe hingga Horison, sastra Indonesia modern tak bisa dipisahkan dari majalah sastra itu sendiri (dan lembaran-lembaran sastra di berbagai koran). Ini bukan sekadar pernyataan akademik yang dingin. Ini adalah fakta yang berdenyut: hampir semua puisi, cerpen, esai, dan kritik yang membentuk kesadaran sastra kita pertama kali lahir di antara halaman-halaman majalah yang terbit —dalam sirkulasi kecil, dengan dana pas-pasan, dan dengan semangat yang kadang membakar, kadang padam digilas zaman.
Hampir semua penyair kita, dari Amir Hamzah hingga Acep Zamzam Noor, melewati proses yang sama: seseorang membaca naskah mereka di antara tumpukan yang masuk ke redaksi, seseorang menganggapnya layak, seseorang (yang mungkin tidak mereka kenal) mengetik ulang karya mereka, dan suatu hari nama mereka tercetak di majalah (atau surat kabar). Itulah mukjizat kecil dari majalah sastra. Sebuah mukjizat yang tidak pernah meriah, bahkan sering tidak disadari —meskipun mungkin terasa megah secara eksistensial dan emosional.
Sekarang, mari kita melihat arsitektur majalah sastra dari ekosistem sastra kita yang rapuh ini, untuk merenungkan bagaimana sejarah sastra kita terbentuk. Saya tidak sedang membuat teori besar. Saya hanya mencoba menggambar peta sederhana dari apa yang saya lihat, dari apa yang saya alami selama bertahun-tahun di dapur redaksi Horison, dan dari apa yang saya saksikan di luar sana—di Bekasi, di Tangerang, di Serang, di Bandung, di Yogyakarta, di Madura, di Bali, di Lampung, di Kalimantan, di Sulawesi, di Papua, di tempat-tempat yang jarang disebut dalam buku sejarah sastra. Dalam cakrawala ini, paling tidak ada dua lapisan.
Lapisan pertama, majalah sastra nasional yang elitis. Inilah lapisan yang paling kelihatan, paling sering dirujuk dalam berbagai kajian (baik akademik maupun non-akademik) dan buku teks. Sebut saja Poedjangga Baroe (1933–1942), Kisah (1953–1956), Sastra (1961–1964), Horison (1966–sekarang, dengan pasang-surut yang menyakitkan), Basis (1951–sekarang, tetapi dengan fokus yang tak selalu semata sastra), Kalam (1988–2004), Jurnal Sajak (2013—sekarang, namun dengan ketidakpastian), dan sederet nama lain yang pernah muncul lalu lenyap seperti Gelanggang (1966) yang konon hanya sempat terbit tiga edisi namun meninggalkan bekas yang dalam.
Majalah-majalah ini elitis. Saya tidak malu mengatakannya, sebab saya —dan mereka, majalah-majalah itu— tidak bermaksud jumawa. Elitis dalam dua pengertian, secara sosiologis dan kultural.
Elitis secara sosilogis: pengasuhnya, penulis tetapnya, bahkan pembaca setianya—mereka umumnya adalah orang-orang dengan modal budaya yang tidak dimiliki sembarang orang. Sastrawan yang sudah diakui, sarjana sastra, dosen, kritikus mapan, ilmuwan, budayawan. Selera mereka terbentuk oleh bacaan yang luas, oleh diskusi yang panjang, oleh kepekaan yang diasah bertahun-tahun. Ketika mereka mengatakan “ini bagus” atau “ini tidak”, kata-kata itu punya bobot, punya konsekuensi, dan kadang—saya harus jujur—juga punya rasa keangkuhan yang sulit disingkirkan sepenuhnya. Hari ini saya bertanya-tanya: berapa banyak suara yang diam-diam tersingkir oleh keangkuhan itu?
Elitis secara kultural: majalah-majalah ini adalah minoritas kreatif dalam arti yang paling klasik. Mereka tidak mewakili suara mayoritas. Mereka tidak berusaha menjadi populis. Mereka justru bangga dengan posisi pinggirannya secara kultural, politik, dan ekonomi, karena dari pinggiran itulah mereka bisa melihat lebih jernih dan berbicara lebih bebas. Fungsi mereka bukanlah menggemakan apa yang sudah diketahui publik, melainkan memaksa publik untuk melihat sesuatu yang belum pernah mereka lihat, untuk merasakan getaran yang belum pernah mereka rasakan. Mereka adalah pengeras suara bagi bentuk-bentuk baru, bagi keberanian estetis, bagi kritik yang mungkin tidak nyaman didengar. Di sini saya harus menggarisbawahi: elitisme kultural ini tidak identik dengan aristokrasi sosial. Elitisme kultural terkait erat dengan disiplin estetik dan ketekunan intelektual.
Namun, justru karena elitis, mereka tidak pernah besar. Oplah Poedjangga Baroe konon hanya 150 eksemplar. Oplah tertinggi Horison hanya 12 ribu eksemplar. Meskipun 12 ribu eksemplar mungkin merupakan angka tertinggi yang pernah dicapai majalah sastra, bagaimanapun angka tersebut sangat rendah dibanding jumlah penduduk Indonesia. Sebuah majalah mingguan atau surat kabar umum harian bisa mencapai oplah ratusan ribu. Kita kalah telak. Tapi kita tidak pernah menganggap itu sebagai kekalahan, karena kita tidak pernah bermain di arena yang sama. Kita bermain di arena lain: arena di mana kuantitas tidak begitu penting, sekunder. Yang penting adalah kualitas —dan kualitas itu akan abadi meskipun majalahnya mati. Setidaknya itulah yang kita yakini, tentu tanpa bermaksud menyombongkan diri.
Lapisan kedua, publikasi komunitas lokal yang mengakar. Di sini saya perlu mengulang kalimat di atas: sastra Indonesia bukan hanya sejarah tentang yang berhasil menjadi monumen, tetapi juga tentang jejak-jejak kecil yang nyaris hilang namun diam-diam membentuk arah perjalanan kebudayaan kita. Di sinilah komunitas-komunitas sastra menempati posisi strategisnya —meskipun tak terlihat, tak tercatat, dan patah tumbuh hilang berganti. Ratusan komunitas tumbuh di mana-mana. Dalam cakrawala arsitektur majalah sastra, sebagian dari komunitas-komunitas sastra itu mengusahakan publikasi: majalah, buletin, jurnal, buku.
