Yang Terbit, Yang Tenggelam, Yang Tak Tepermanai*

Saya terpaku. Saya terhenyak. Saya terharu.

Di satu sudut di Pameran 60 Tahun Majalah Horison di PDS H.B. Jassin (23 April–24 Mei 2026), saya melihat foto itu dengan penuh perasaan yang saya coba tahan. Duduk di kursi, berderet dari kanan ke kiri: Taufiq Ismail, Ati Ismail, H.B. Jassin, Mochtar Lubis, dan Sutardji Calzoum Bachri. Berdiri di belakang mereka, berderet dari kanan ke kiri: Ikranagara, Azwan Hamir, Hamsad Rangkuti, Fadli Zon, dan saya sendiri. Di belakang kami semua, terpampang logo Horison dan Kakilangit. Saya ingat: itu foto tahun 1996. Ya Allah, betapa cepat waktu berlalu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Yang membuat saya semakin terpaku adalah kenyataan bahwa sebagian dari mereka telah mendahului kita, satu demi satu. Kini yang tinggal adalah Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Ati Ismail, Fadli Zon (kini Menteri Kebudayaan RI), dan saya sendiri. Saya berusaha tidak romantik. Meski telah mendahului kita, tidak, mereka tidak tenggelam. Alih-alih, merekalah di antara yang tak tepermanai. Saya masih merasakan hangat tangan mereka di setiap huruf majalah Horison.

Namun, sekali lagi, saya berusaha untuk tidak larut dalam romantisme. Pameran ini —yang bertajuk “Yang Terbit, Yang Tenggelam”— tidak hanya mengundang kita untuk bernostalgia. Ia mengundang kita untuk bertanya dengan lebih jujur: apa yang terjadi pada majalah-majalah sastra yang tidak pernah tercatat? Lalu, apa bedanya antara yang terbit dan yang tenggelam, jika sama-sama bisa lenyap dari ingatan?

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan