Yang Terbit, Yang Tenggelam, Yang Tak Tepermanai*

Di titik ini kita masuk ke buletin Jejak sebagai contoh kasus publikasi komunitas lokal yang mengakar. Buletin Jejak sebagai pars pro toto. Buletin ini adalah publikasi Forum Sastra Bekasi (FSB), komunitas yang didirikan pada April 2011 oleh Budhi Setyawan, M. Taufan Musonip, Yoyong Amilin, dan Dani Ardani, dengan Sofyan RH. Zaid sebagai salah seorang eksponen pentingnya. FSB tidak hanya menjadi ruang diskusi dan panggung sastra, melainkan juga menerbitkan buletin Jejak secara rutin setiap bulan. Sejak awal berdirinya, buletin ini terbit rutin setidaknya hingga lima tahun pertama usianya, sebuah prestasi yang nyaris langka di antara komunitas sastra Indonesia. Selama lima tahun pertama usianya, Jejak terbit 16 halaman setiap edisi, memuat puisi, cerpen, esai sastra-budaya, kritik sastra, ulasan buku, hingga rubrik “Embrio” untuk karya siswa sekolah. Ini mengukuhkan FSB sebagai komunitas yang memiliki stamina maraton, bukan sekadar lari cepat.

Lebih dari sekadar keteraturan teknis, Jejak menjadi lingkaran kreasi dan produksi sastra yang saling menghidupi: penulis membangun komunitas, komunitas menerbitkan publikasi, dan publikasi melahirkan penulis-penulis baru. Perlu ditambahkan, FSB tidak hanya memproduksi karya-karya kreatif, melainkan juga memproduksi berbagai pemikiran sastra-budaya melalui rubrik tetap “Catatan Kebudayaan” yang sebagai isu utama buletin sebagian besar diisi oleh eksponen FSB sendiri. Dalam arti itu, FSB bukan saja komunitas kreatif sastrawan, melainkan juga komunitas diskursif yang berani menancapkan posisinya tidak hanya untuk Bekasi, tetapi juga untuk sastra Indonesia secara luas.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Jika Horison dan majalah sejenisnya adalah mercusuar yang terlihat dari kejauhan, maka buletin Jejak adalah jejak-jejak kecil di atas pasir yang setiap saat dapat terhapus ombak—dan justru di situlah letak maknanya yang paling dalam. Eksistensinya sebagai publikasi komunitas lokal yang mengakar dibuktikan tidak hanya dengan buletin bulanannya, tetapi juga dengan antologi-antologi puisi seperti Kepada Bekasi (2013) dan Saksi Bekasi (2015). Dua antologi ini merekam perubahan dramatis kota Bekasi sebagai penyangga Jakarta—hilangnya sawah, mengeringnya sungai, tergusurnya kehidupan lama oleh pabrik dan industri. Para penyair mengemukakan itu dengan nada yang jujur, prihatin, dan kadang pedih, seperti dalam puisi Dian Rusdiana: pada tanahmu yang memendam bara api, aku hangus terbakar. Puisi-puisi itu, yang menangisi Bekasi karena para penyairnya justru sangat mencintai kota itu, adalah kesaksian kolektif yang tidak akan pernah masuk dalam buku pembangunan kota atau brosur investasi—dan karena itulah ia harus diingat.

Buletin Jejak dan FSB tentu tidak luput dari kelemahan: buletin yang terkesan dikerjakan dengan terburu-buru, kadar ketidaksempurnaan yang masih terasa dalam berbagai publikasi. Namun, ia tetaplah satu kasus komunitas sastra Indonesia yang dengan dedikasi tinggi berusaha menyumbangkan sesuatu bagi sastra Indonesia. Dengan segala keterbatasan, FSB telah memberikan kontribusi pada lingkungan terdekatnya, dan dengan cara itu pula ia menyumbang sesuatu pada sastra Indonesia—karena, pada akhirnya, sebuah komunitas sastra terlebih dulu harus berarti bagi lingkungannya sendiri. Dengan cara itu ia berarti. Dan hanya setelah berarti, penyair boleh pergi. Tapi tidak. Penyair tak boleh pergi. Tak boleh pergi.

Horison Sastra, Jejak Sastra

Izinkan saya mengajak kita semua untuk jujur. Horison dan Jejak tidak setara. Bukan karena yang satu lebih baik dari yang lain. Tapi karena alam semesta tempat mereka berputar memang berbeda. Horison lahir dari rahim elite sastra Pusat. Mochtar Lubis, H.B. Jassin, Taufiq Ismail, Arief Budiman — nama-nama itu sudah menjadi mitos sebelum saya dilahirkan. Redaksinya di Jakarta. Pengedarannya nasional. Bahasa yang dipakainya adalah bahasa yang diajarkan di universitas. Sementara, Jejak lahir di Bekasi, dari kegelisahan penulis-penulis muda yang tidak punya nama besar. Dicetak dengan dana patungan. Diedarkan dari tangan ke tangan di warung kopi. Bahasa yang dipakainya kadang kaku, kadar ketidaksempurnaannya terasa. Tapi justru di situlah kejujuran itu bersarang.

Mohon dipahami bahwa saya tidak sedang membuat perbandingan hierarkis. Saya sedang mencoba memahami: apa yang terjadi ketika mercusuar dan jejak di pasir berada dalam ekosistem yang sama? Horison berbicara kepada Indonesia. Jejak berbicara dari dalam Bekasi. Horison mengklaim universalitas. Jejak tidak pernah mengklaim apa-apa selain: ini suara kami. Horison bertahan enam puluh tahun dengan pasang-surut yang menyakitkan. Jejak —setahu saya— sudah tidak terbit lagi. Entah sejak kapan. Saya tidak tahu persis.

Dan justru ketidaktahuan saya itu adalah bagian dari masalah.

Apa yang hilang ketika Jejak tenggelam? Bukan hanya puisi-puisi tentang hilangnya sawah di Bekasi. Bukan hanya rubrik “Embrio” yang menjadi ruang pertama bagi siswa sekolah untuk melihat namanya tercetak, alias lolos kurasi. Yang hilang adalah ekosistem kecil yang membuat sastra tetap bernapas di tempat yang tidak memiliki galeri, tidak memiliki toko buku bagus, tidak memiliki diskusi mingguan di kampus ternama.

Sastra Indonesia tidak akan mati tanpa Jejak. Tapi sastra Indonesia jelas akan menjadi lebih miskin. Lebih Jakarta-sentris. Lebih elitis dengan cara yang tidak semestinya. Di titik inilah kita harus mengakui: Horison butuh Jejak sama seperti Jejak butuh Horison.

Saya bertanya pada diri sendiri: apa yang sudah saya lakukan, sebagai pemimpin redaksi Horison waktu itu, untuk publikasi seperti Jejak? Jawabannya menyakitkan: hampir tidak ada.

Memang, kami memuat beberapa penulis dari komunitas. Tapi itu pun selektif, dan seleksinya tetap menggunakan ukuran Horison —ukuran yang elitis, yang tidak pernah dirancang untuk mengakomodasi kegaduhan dan ketidaksempurnaan komunitas akar rumput. Kami merasa sudah cukup dengan memberi ruang sesekali. Kami tidak pernah berpikir untuk berbagi teknologi, untuk menjemput bola, untuk menjadikan diri kami bukan sekadar mercusuar tapi juga pemindai yang merekam jejak sebelum ombak menghapusnya.

Jangan-jangan sebenarnya itu kesombongan —kesombongan yang tentu saja tak diniatkan. Dan kesombongan itu ikut menenggelamkan banyak kapal yang seharusnya diselamatkan.

Sekarang, di pameran ini, saya diingatkan lagi.

Foto itu. Tahun 1996. Wajah-wajah yang kini telah pergi. Ada Mochtar Lubis di sana, H.B. Jassin, Hamsad Rangkuti, Ikranagara, Azwar Hamir…. Mereka tidak pernah membaca Jejak. Bukan karena mereka sombong, tapi karena Jejak belum belum lahir atau tak sampai pada mereka. Tapi andai mereka masih hidup, andai mereka membaca puisi Dian Rusdiana tentang Bekasi yang hangus terbakar, saya yakin Jassin akan bilang: ini penting. Simpan ini baik-baik.

Tapi kita (baca: saya) tidak menyimpan. Kita tidak punya pusat dokumentasi untuk buletin komunitas. PDS H.B. Jassin mungkin menyimpan Horison dengan rapi. Tapi Jejak? Saya ragu. Bukan salah PDS H.B. Jassin. Mereka juga terbatas. Maka, yang tersisa adalah ingatan yang rapuh.

Dan ingatan yang rapuh itu sungguh tidak cukup.

Saya membayangkan seorang siswa di Bekasi, dua puluh tahun yang akan datang, yang ingin menelusuri bagaimana kotanya berubah. Ia pergi ke perpustakaan. Ia mencari Jejak. Tidak ada. Ia mencari antologi Kepada Bekasi. Mungkin masih ada, terselip di rak seseorang, atau sudah lapuk dimakan waktu. Ia tidak akan pernah tahu bahwa pada 2013, sekelompok anak muda menulis: pada tanahmu yang memendam bara api, aku hangus terbakar. Ia akan mengira perubahan Bekasi terjadi begitu saja. Ia tidak akan tahu ada perlawanan sunyi dalam bentuk puisi.

Itulah tenggelam.

Tinggalkan Balasan