Yang Terbit, Yang Tenggelam, Yang Tak Tepermanai*

Bukan tenggelam secara fisik. Tapi tenggelam dari ingatan kolektif. Horison mungkin tidak akan tenggelam. Begitu banyak referensi, cukup banyak buku yang mengutipnya. Tapi Horison pun bisa tenggelam dalam arti lain: menjadi monumen yang dikunjungi sesekali, tapi tidak lagi bergerak, tidak lagi mengganggu, tidak lagi membuat orang tidak nyaman.

Dan itu lebih menakutkan daripada tidak terbit sama sekali.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dasar Laut Kebudayaan

Barangkali sastra Indonesia selalu bergerak di antara dua nasib: menjadi merkurius atau menjadi jejak. Yang satu berkilau, memantulkan cahaya, bergerak cepat dari satu tangan ke tangan lain, dari pusat kebudayaan ke ruang-ruang legitimasi. Yang lain nyaris tak terlihat: tertinggal samar di tanah basah, mudah terhapus hujan, namun justru menandai bahwa seseorang benar-benar pernah berjalan di sana. Kita mengenang nama-nama besar, majalah-majalah besar, perdebatan besar, tetapi sering lupa bahwa kebudayaan tidak hanya dibangun oleh yang berkilau. Ia juga dibangun oleh jejak-jejak kecil yang tak sempat berubah menjadi monumen. Ya, ini masalah historiografi sastra Indonesia.

Di hadapan arsip, kita selalu percaya pada daya tahan. Arsip memberi kesan keabadian: kertas yang disimpan, edisi yang dijilid, dokumentasi yang dipelihara, foto yang dipigura, nama yang dicatat dalam bibliografi. Dokumentasi dan arsip adalah cara peradaban melawan kematian. Namun justru di situlah ironi bermula. Sebab tidak semua yang hidup sempat menjadi arsip, dan tidak semua yang terarsipkan benar-benar hidup. Banyak komunitas sastra yang pernah begitu bergairah kini hilang tanpa bekas: tidak terdokumentasi, tidak diteliti, tidak disebut dalam disertasi mana pun. Tetapi bukankah di ruang-ruang kecil yang hilang itu pernah lahir persahabatan, diskusi, pembacaan puisi, pertengkaran estetik, mimpi-mimpi kebudayaan, bahkan semangat untuk tetap menulis di tengah hidup yang nyaris tak memberi tempat bagi sastra? Yang tenggelam belum tentu tidak penting. Kadang-kadang justru yang paling menentukan adalah yang tak sempat didokumentasikan, tak sempat diarsipkan.

Kita juga terlalu sering membayangkan sejarah sastra sebagai deretan monumen. Ada nama-nama yang menjulang seperti mercusuar: majalah besar, tokoh besar, kota-kota besar. Semua tampak kokoh dalam panorama sejarah resmi. Tetapi sastra sesungguhnya tidak hanya hidup di dalam monumen. Ia bernapas di komunitas. Ia berdenyut dalam masyarakat. Di ruang kontrakan sempit tempat puisi dibacakan dengan pengeras suara seadanya. Di buletin fotokopian yang dibagikan dari tangan ke tangan. Di diskusi kecil yang pesertanya tak lebih dari sepuluh orang.

Monumen memberi kita kemegahan, tetapi masyarakat memberi kesejahteraan kehidupan. Monumen bisa bertahan di museum, namun komunitaslah yang membuat sastra tetap beredar sebagai pengalaman yang hidup dari dan bagi masyarakat. Seorang anak muda tiba-tiba merasa menyala ketika pertanyaannya tentang sebuah diksi dalam puisi menjadi bahan diskusi yang hangat dalam forum diskusi kecil. Seorang pelajar merasa bergairah ketika cerpennya menjadi bahan diskusi di antara eksponen komunitas. Di situlah komunitas sastra menyuntikkan darah pada kebudayaan. Di situlah kebudayaan terasa hidup dan relevan.

Dan seperti semua sejarah kebudayaan, sastra Indonesia juga dibangun oleh ketegangan antara pusat dan pinggiran. Jakarta terlalu lama dianggap sebagai pusat gravitasi sastra, seolah-olah legitimasi hanya lahir dari sana. Padahal di luar pusat, di kota-kota yang jarang disebut, orang-orang terus menulis, menerbitkan buletin kecil, menyebarkan puisi, menulis cerpen, membangun lingkaran baca, dan mempertahankan nyala yang sering kali bahkan tidak terlihat oleh sejarah nasional. Pinggiran bukan ruang kosong. Ia adalah ruang sunyi, tempat kebudayaan diam-diam bertahan hidup. Dan sering kali, justru dari pinggiranlah muncul energi yang menyelamatkan sastra dari kebekuan pusat.

Ada pula perbedaan yang menyakitkan antara yang terdokumentasi dan kehidupan yang hilang, yang terbit dan yang tenggelam. Sebagian majalah tersimpan rapi di perpustakaan; sebagian lainnya bahkan tak meninggalkan satu contoh pun. Sebagian besar nama tercatat dalam ensiklopedia sastra; sebagian lain hanya hidup dalam ingatan beberapa sahabat yang kini menua. Tetapi kebudayaan tidak bekerja hanya melalui dokumentasi. Ia juga bekerja melalui pengaruh-pengaruh yang tak terlihat: seorang penyair muda yang diam-diam tergerak setelah membaca puisi di buletin lokal; seorang siswa sekolah yang pertama kali merasakan hidupnya berarti karena namanya dimuat di halaman sastra komunitas; sebuah kota kecil yang menemukan kesadarannya sendiri melalui puisi-puisi yang ditulis tentang sungainya yang mengering atau sawahnya yang hilang. Banyak hal yang paling hidup dalam kebudayaan bahkan tidak sempat menjadi dokumen.

Karena itu, sejarah resmi selalu menyisakan kesunyian yang panjang. Ia mencatat yang besar, tetapi sering gagal mendengar yang rapuh. Ia menyusun garis besar perkembangan sastra, namun tidak selalu mampu menangkap getaran batin yang sesungguhnya membuat sastra tetap hidup di tengah masyarakat. Di luar sejarah resmi itu, ada memori budaya: ingatan kolektif yang berpindah dari percakapan ke percakapan, dari membaca puisi ke membaca puisi, dari komunitas ke komunitas. Memori budaya tidak selalu rapi. Ia tercecer, berserak, mudah pecah, mudah hilang. Ia rapuh. Namun justru karena rapuhnya ia manusiawi. Ia menyimpan bukan hanya nama dan tanggal, melainkan juga suasana, luka, harapan, dan cinta yang membuat orang bertahan menulis meskipun tahu mungkin tak akan pernah tercatat dalam sejarah. Dan, justru di dasar laut inilah kebudayaan kita hidup. Dan, justru karena itu ia tak tepermanai.

Dan mungkin di situlah makna terdalam pameran seperti ini: bukan sekedar merayakan yang berhasil bertahan, melainkan juga mendengarkan gema dari yang telah tenggelam. Sebab kebudayaan tidak hanya dibentuk oleh mereka yang menjadi monumen, melainkan juga oleh mereka yang pernah meninggalkan jejak kecil —lalu hilang tanpa suara. Dan jejak kecil yang tenggelam itu adalah nafas kebudayaan.

Maka sekarang, di depan foto tahun 1996 itu, saya tidak lagi bertanya siapa yang terbit dan siapa yang tenggelam. Saya hanya melihat wajah-wajah yang sudah pergi. Lalu mendengar, dari kejauhan, suara anak muda di Bekasi yang masih menulis —meskipun mungkin tidak pernah ada yang membacanya.

Sampai di sini saya harus berhenti. Bukan karena selesai. Tapi karena yang tak tepermanai tidak bisa dijelaskan lebih lanjut. Ia hanya bisa dirasakan. Atau dilupakan. []

Cinangka, 8 Mei 2026.

*Makalah disampaikan dalam Diskusi Publik Pameran 60 Tahun Majalah Horison “Yang Terbit, Yang Tenggelam” di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 10 Mei 2026. Pameran diselenggarakan oleh Perpustakaan Jakarta dan PDS H.B. Jassin.

Jamal D. Rahman.

Menulis puisi, kritik, dan esai tentang sastra, kebudayaan, dan Islam. Pernah menjadi Pemimpin Redaksi majalah sastra Horison, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, Pemimpin Redaksi Jurnal Sajak, dan mengajar sastra di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Buku puisinya: Airmata Diam, Reruntuhan Cahaya, Garam-Garam Hujan, dan Rubaiyat Matahari. Menerima Hadiah Majelis Sastra Asia Tenggara dari Malaysia, 2016. Menyunting lebih dari 30 buku sastra, kebudayaan, dan Islam. Menghadiri forum-forum sastra di Malaysia, Singapura, Brunei Darusslaman, Iran, Jerman, Vietnam, Tunisia, dll. Dua bukunya baru saja terbit: Islam, Sastra, Pengetahuan: Pergulatan Wacana Kolonial Laut Banten dan Wahdatul Wujud: Artikulasi Islam dalam Sastra Indonesia Modern. Sementara itu, dua bukunya akan segera terbit: Secangkir Kopi Seorang Musafir: Esai-esai Sastra-Budaya dan Sejarah, Sastra, Pesantren: Pergumulan Budaya.

Tinggalkan Balasan