AKU SANTRI PENDOSA
Aku santri pendosa
Yang sering berpura-pura sakit
Kala pelajaran mulai sulit
Kala rindu mulai mengimpit
Aku rebah lebih awal
Memegangi kepala yang sebenarnya baik-baik saja
Sedang ibu di rumah
Mungkin sedang menahan nyeri yang tidak pernah dicerita

Aku santri pendosa
Yang pandai mengeluh pada keadaan
Namun lupa
Ada orang tua yang diam-diam menelan kepedihan
Aku memang santri pendosa
Bermulut penuh alasan
Berhati penuh kelalaian
Aku santri pendosa
Yang selalu salah
namun tetap ingin diakui sebagai santrimu
Aku santri pendosa
Maafkanlah Tuhan
AKU INGIN MENJADI SANTRIMU YANG HITAM
Di antara gerombol santri berbaju putih
Aku ingin menjadi santrimu yang berbaju hitam sendiri
Ketika santri-santri lain
Mengangguk pada kitab
Menghafal syarah demi syarah
Sampai leher dan badan pegal
Aku lebih memilih bertanya
“Kalau semuanya sama,
Siapa yang pertama kali membantah kemapanan?”
Katamu:
خَالِفْ تُعْرَفْ
Berbedalah
Nanti juga dikenal
Maka santri-santri mulai sibuk
Merapikan keanehan masing-masing
Ada yang memanjangkan opini
Sampai menyenggol langit-langit warung dan koperasi
Ada yang berdebat keras sekali
Padahal belum selesai membaca kaki-kaki
Ada juga yang sengaja melawan arus
Supaya namanya lewat di status-status
Ketika orang-orang lain menanam ilmu
Pelan-pelan
Sampai berbuah
Sebagian memilih menanam sensasi
Lalu memotretnya tiap pagi
Aku jadi curiga
Jangan-jangan kita terlalu sibuk terlihat berwarna
Sampai lupa menjadi yang benar-benar berguna
Padahal al-Hathi’ah dulu berkata
خَالِفْ تُذْكَرْ
Berbedalah supaya dikenang
Di antara gerombol manusia putih
