Anjay

Saya pernah mencoba menyaring dan membendung kata-kata. Anda tahu hasilnya? Gagal total! Dan saya mengaku kalah, bersalah.

Hal itu terjadi saat anak saya memasuki masa belajar bicara. Saya tak ingin, dalam hidupnya yang masih murni-bersih itu, ia mengenal kosa kata yang diberi konotasi buruk. Misalnya, saya tak mau mengenalkan kepadanya kosa kata “bohong”, “bodoh”, “khianat”, “tipu”, “maling”, dan sejenisnya, dengan segala turunannya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Jika ada seseorang yang berbohong, maka saya akan menyebutnya dengan istilah pengganti “mengarang”. Dengan begitu, misalnya, jika ia bertanya kenapa apa yang diomongkan seseorang berbeda dengan fakta yang sebenarnya, saya akan memberi jawaban: “dia sedang mengarang,” bukan “dia sedang menipu.”

Begitu pula dengan kosa kata lainnya dan yang seterusnya itu; saya akan selalu mencari kata atau kalimat pengganti “yang baik-baik saja”. Tujuannya, agar selama masa tumbuh-kembang itu, anak saya tak pernah mengenal kata-kata yang diberi konotasi buruk. Agar tak ada kata yang diberi konotasi buruk dalam kamus hidup anak saya. Dengan demikian, impian saya, anak saya akan jauh dari perilaku buruk karena terhindar dari pengaruh kata-kata buruk.

Lalu apa yang terjadi?

“Ah, lu boong, San…”

“Ih, anjrit emang lu, San…”

Tinggalkan Balasan