Menyambut datangnya 1 Muharam dan 1 Suro, Tahun Baru Islam dan Tahun Baru Jawa, digelar malam tirakatan di selasar gedung Makara Art Center Universitas Indonesia (MAC UI), Senin (15/6/2026) malam. Acara ini digelar sebagai ruang kebersamaan, refleksi, serta doa lintas rasa.
Kegiatan yang mengusung tema “Malam Tirakat, Hening, dan Menyelaraskan Diri” ini diselenggarakan Direktorat Kebudayaan UI bersama Urban Spiritual Indonesia, Komoenitas Makara, dan Program Studi Sastra Jawa FIB UI.

Acara ini menghadirkan sejumlah pamomong kebudayaan seperti Direktur Kebudayaan UI Dr. Ngatawi Al Zastrouw, Pendiri Urban Spiritual Indonesia Dr. Turita Indah Setyani, Guru Besar Sastra Jawa FIB UI Prof. Dr. Darmoko, Pakar Kebudayaan Jawa FIB UI Dr. Ari Prasetiyo, Praktisi Budaya Jawa Ki Yusuf Raharjo, dan Ketua Komoenitas Makara Fitra Manan. Selain itu, ada pegiat budaya Eko Wiwid Arengga dan Pendiri Borobudur Writers and Cultural Festival Seno Joko Suyono.
Rangkaian acaranya meliputi ritual seperti Senandung Kidung, Jamasan Pusaka, Doa dan Refleksi Awal Tahun, Meditasi, Tapa Bisu Tepi Danau, dan Bersama Menikmati Hidangan Bubur Suro.
Dalam sambutannya, Ngatawi Al-Zastrouw menjelaskan, perayaan Tahun Baru Jawa yang bersamaan dengan Tahun Baru Hijriyah tidak saja mencerminkan pergantian waktu, tapi memiliki makna kultural dan spiritual. Secara kultural, perayaan ini mencerminkan sikap moderat (tawasuth) dan toleran (tasamuh) yang menjadi karakter dari budaya Nusantara.
Menurutnya, penyatuan kalender Jawa dan Hijriyah ini merupakan bentuk ijtihad kebudayaan yang genius, kreatif, dan inovatif dari Sultan Agung dalam menautkan agama dan tradisi tanpa meleburkan keduanya. Sehingga bentuk dan jejak masing-masing masih jelas terlihat (ciltural affinity).
“Sedangkan makna spiritual perayaan 1 Suro merupakan momentum menggali dan menghidupkan spirit religiusitas melalui berbagai laku spiritual.yang reflektif seperti muhasabah (refleksi diri), meditasi dan sejenisnya,” ujar Ngatawi Al Zastrouw.
Pada kesempatan yang sama, pendiri Urban Spiritual Indonesia Dr Turita Indah Setyani mengungkapkan, tahun baru Islam dan Jawa, 1 Suro, oleh para leluhur dipandang sebagai waktu untuk manekung atau bertafakur dan ber-taqarrub.
“Melalui laku tafakur dan taqarrub, kita diajak merefleksikan perjalanan hidup yang sudah dilalui, menyucikan niat ke depan, serta menumbuhkan kesadaran akan hubungan dengan Sang Pencipta, sesama, dan alam semesta,” ujarnya.
Sebelumnya, dalam pidato pembuka, Wakil Ketua Komoenitas Makara Gunawan Wicaksono menjelaskan, malam 1 Suro bukan sekadar pergantian angka pada kalender Jawa maupun Hijriah.
“Malam ini adalah sebuah gerbang waktu yang sakral untuk sejenak berhenti dari hiruk-pikuk duniawi, lalu menengok ke dalam diri kita masing-masing. Dalam falsafah budaya Jawa yang luhur, malam ini adalah momentum terbaik untuk melaksanakan prinsip ‘eling lan waspada,'” ujarnya.
Namun, pakar kebudayaan Jawa FIB UI Dr. Ari Prasetiyo melihat telah terjadi pergeseran dan perubahan makna amelioratif menjadi peyoratif dalam memaknai peringatan 1 Suro. Sebelumnya, 1 Suro merupakan hari yang baik, karena di saat itulah masyarakat Jawa melakukan penyucian diri, interospeksi serta evaluasi diri setelah menjalani kehidupan selama setahun.
Seiring perjalanan waktu, 1 Suro bergeser dan berubah menjadi bermakna tidak baik. 1 Suro mendapat konotasi negatif sebagai waktu yang menakutkan, hantu bergentayangan, angker, dan mengundang sial. Film-film horor secara latah ikut meracuni dan memvalidasi pemahaman negatif ini.
“Marilah di malam 1 Suro ini kita bersama-sama melakukan evaluasi dan perbaikan diri. Jadi dosen, jadilah dosen yang baik. Jadi mahasiswa, jadilah mahasiswa yang baik. Jadi pejabat, jadilah pejabat yang baik. Jadi pemimpin, jadilah pemimpin yang baik,” tandasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Guru Besar Sastra Jawa FIB UI Prof. Dr. Darmoko menyampaikan pesan luhur 1 Suro melalui tembang Jawa, yang berisi ajakan untuk merawat dan menjaga budaya bangsa
