Pada awal tahun 2026, publik dikejutkan oleh temuan hasil skrining kesehatan jiwa pelajar di Kota Bandung, Jawa Barat. Dari 148.239 peserta didik yang mengikuti skrining, sebanyak 71.433 siswa atau sekitar 48,19 persen terindikasi mengalami masalah kesehatan mental.
Angka tersebut menjadi alarm yang tidak bisa diabaikan. Ketika hampir setengah dari pelajar yang diperiksa menunjukkan indikasi gangguan kesehatan jiwa, persoalannya tidak lagi dapat dipandang sebagai masalah individu semata. Ada sesuatu yang perlu dievaluasi dari lingkungan yang membentuk mereka, termasuk sistem pendidikan yang mereka jalani.

Fenomena tersebut mengundang pertanyaan penting: apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan dunia pendidikan kita? Mengapa semakin banyak pelajar yang merasa cemas, tertekan, dan kehilangan ketenangan di usia yang seharusnya menjadi masa penuh semangat untuk belajar dan berkembang?
Selama ini, keberhasilan pendidikan sering kali hanya diukur melalui angka. Nilai ujian, peringkat kelas, dan berbagai prestasi akademik menjadi tolok ukur utama keberhasilan seorang siswa. Tidak sedikit siswa yang akhirnya tumbuh dengan keyakinan bahwa nilai adalah segalanya. Mereka merasa berhasil ketika memperoleh nilai tinggi dan merasa gagal ketika hasil yang didapat tidak sesuai harapan.
Padahal, pendidikan seharusnya tidak hanya berfokus pada hasil akhir. Proses belajar, perkembangan karakter, kemampuan berpikir kritis, serta kesehatan mental peserta didik juga merupakan bagian penting yang tidak boleh diabaikan. Sayangnya, budaya pendidikan yang terlalu menekankan pencapaian akademik sering kali membuat aspek-aspek tersebut berada di urutan kedua.
Tekanan yang dialami pelajar saat ini juga semakin kompleks. Selain tuntutan akademik, mereka harus menghadapi ekspektasi dari orang tua, persaingan dengan teman sebaya, hingga pengaruh media sosial yang terus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Media sosial memang memberikan banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan ruang perbandingan yang tidak ada habisnya. Pelajar dapat melihat pencapaian orang lain setiap saat dan tanpa sadar merasa dirinya kurang baik, kurang pintar, atau kurang berhasil.
Di sisi lain, masih banyak pelajar yang merasa kesulitan untuk berbicara mengenai kondisi mental yang mereka alami. Mereka khawatir dianggap lemah, kurang bersyukur, atau terlalu berlebihan dalam menyikapi masalah. Akibatnya, berbagai perasaan seperti stres, kecemasan, kelelahan mental, bahkan burnout dipendam sendirian tanpa mendapatkan dukungan yang memadai.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kesehatan mental pelajar bukan lagi isu sampingan. Ia telah menjadi persoalan nyata yang membutuhkan perhatian bersama. Sekolah tidak cukup hanya menjadi tempat untuk mengejar target akademik, tetapi juga harus menjadi ruang yang aman bagi siswa untuk bertumbuh, berekspresi, dan mendapatkan dukungan ketika menghadapi kesulitan.
Dalam perspektif Islam, pendidikan bertujuan membentuk manusia yang utuh. Kecerdasan intelektual memang penting, tetapi harus berjalan seiring dengan kesehatan emosional dan spiritual. Islam mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan, termasuk dalam belajar dan bekerja. Rasulullah saw. juga mencontohkan pentingnya kasih sayang, empati, serta kepedulian terhadap kondisi sesama manusia. Nilai-nilai inilah yang seharusnya menjadi fondasi dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat.
Sudah saatnya semua pihak melakukan refleksi. Orang tua perlu memberikan dukungan tanpa membebani anak dengan ekspektasi yang berlebihan. Guru perlu menciptakan suasana belajar yang tidak hanya menuntut, tetapi juga memahami. Sekolah perlu menyediakan ruang yang memungkinkan siswa merasa didengar dan dihargai. Sementara itu, masyarakat perlu menghilangkan stigma terhadap isu kesehatan mental agar pelajar tidak takut mencari bantuan ketika membutuhkannya.
Darurat kesehatan mental pelajar adalah peringatan bahwa pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada angka dan prestasi. Sebab, tujuan pendidikan yang sesungguhnya bukan hanya menghasilkan siswa yang pintar, melainkan juga manusia yang sehat, berkarakter, dan mampu menjalani kehidupan dengan baik. Jika pendidikan hanya mengejar nilai tanpa memperhatikan perasaan, maka kita berisiko kehilangan makna terdalam dari proses mendidik itu sendiri
