Kasih dan Air Mata Ibu

Setelah keluar dari pesantren, menjadi alumni Pondok Pesantren Annuqayah, sekitar tahun 1995, saya diajak senior pesantren untuk mengabdi di pesantren yang ada di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Perjalanan jauh ini merupakan perjalananku yang pertama. Sebelumnya, saya tidak pernah melakukan perjalanan hingga menyeberangi laut lepas. Tetapi, karena targetnya adalah mengabdi di sebuah pesantren, akhirnya saya setuju dan mau bepergian sejauh itu.

Tentu saja, pertama kali yang saya minta persetujuan dan restu adalah ibuku. Saya  memberitahukan masalah ini ketika ibu sedang sibuk di dapaur. Biasanya pada saat demikian saya dan ibu ngobrol sambil aku membantu seadanya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Bu, saya mau ke Kalimantan,” saya memulai percakapan saat itu.

“Kalimantan mana?”

“Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Lumayan jauh dari Madura.”

“Untuk apa pergi sejauh itu?” Ibu bertanya acuh.

“Mengabdi, Bu. Di sana ada pesantren baru yang memerlukan ustadz,” saya jawab dengan jujur.

Ibu sesaat diam. Entah apa yang ada dalam pikiran ibu. Saya juga diam. Tentu menunggu persetujuan ibu. Tetapi kemudian ibu mengatakan bahwa kalau dalam rangka pengabdian tidak apa-apa. Silakan saja. Hanya, pesan ibu, harus hati-hati dan jangan sampai melenceng dari tujuan semula: pengabdian itu.

One Reply to “Kasih dan Air Mata Ibu”

Tinggalkan Balasan