Absurditas Agama dan Logika Kemanusiaan

Di dalam Al-Quran, Allah swt berfirman, “Bagimu agamu dan bagiku agamaku,” (QS. Al-Kafirun: 6). Ayat ini secara teks menyatakan bahwa agama merupakan pilihan individual. Sementara itu, secara kontekstual ayat ini menjadi dasar pemahaman bahwa agama bukan dipaksakan. Tetapi diupayakan untuk disadari bahwa kebenaran agama itu logis dan ilmiah.

Kemanusiaan dan agama tidak dapat dipisahkan. Agama dijadikan pedoman hidup oleh manusia, dan kemanusiaan merupakan logika dalam beragama. Penganut agama apapun, harus memahami bahwa kepercayaan agama itu berujung pada kemanusiaan dan sosial kemasyarakatan. Kelompok penganut agama (termasuk Islam) harus bersikap eksklusif sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan kemasyarakatan. Inklusivisme agama tidak akan berkembang baik di lingkungan pluralis sebagaimana terjadi di Indonesia.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Memanusiakan manusia adalah menjadikan logika di atas kemanusiaan. Kecenderungan untuk menafikan keyakinan orang lain adalah sebuah kekeliruan. Oleh karena itu kita tidak seharusnya memaksakan kehendak (keyakinan) kepada orang lain karena hal ini bertentangan dengan logika kemanusiaan dan bahkan dengan Islam itu sendiri.

Bisa jadi perbuatan menesta dan menghina sesajen sebagaimana terjadi di kawasan Semeru itu hanya karena khilaf semata. Atau mungkin juga karena keperluan konten dan lain sebagainya. Akan tetapi, apapun tujuannya yang jelas telah melukai hati orang lain. Hal paling baik adalah meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan tersebut. Karena tindakan itu telah menyakiti orang atau kelompok tertentu. Wallahu A’lam! 

Tinggalkan Balasan