Absurditas Beragama
Setiap agama mengajarkan kebaikan meskipun tidak semuanya mendedikasikan kebenaran. Pada tataran kebenaran tentu saja memiliki relatifitas personal. Setiap orang memiliki hak untuk mengatakan bahwa agamanya benar sekaligus baik. Argumentasi terhadap kebenaran dan kebaikan pun akan beragam dan tidak sama. Kecenderungan terhadap sebuah agama merupakan hak asasi setiap orang. Dalam bahasa Al-Quran, “La ikraha fiddin, tidak ada paksaan di dalam agama,” (QS. Al-Baqarah: 256).

Pemahaman terhadap agama tidak akan pernah mencapai hakikat kebaikan, jika hanya merasakan kebenaran pada diri sendiri. Pemahaman absurd dalam beragama akan lahir dari logika yang dikebiri oleh egoisme semata. Kita boleh mengkavling kebenaran terhadap agama sendiri tanpa memaksakan kehendak kepada orang lain. Kita boleh tidak sepaham dengan budaya orang lain, tetapi merusak dan menghina kebiasaan orang lain adalah cacat kemanusiaan. Sebagai makhluk sosial sudah seharusnya kalau kita saling menghargai dan menahan emosi terhadap hal-hal yang tidak kita inginkan.
Absurditas adalah kemustahilan dan tidak masuk akal. Logika kemanusiaan kita tidak menerima jika ada seseorang yang merasa benar sendiri, kemudian melakukan langkah “kriminal” di dalam sebuah hubungan kemanusiaan. Realitas ini semakin jelas bahwa etika kemanusiaan kita harus diperbaiki. Sehingga tidak ada lagi kasus-kasus yang mencoba mengebiri keyakinan orang lain.
Logika Kemanusiaan
